(Wattpad Review) Trouble is a Friend by Trisna Dewi

Bagaimana rasanya jika kamu menyukai atau bahkan mencintai sahabatmu sendiri? Tapi doi sukanya sama sahabat kamu juga?

Ya, mungkin benar kata orang dunia ini hanya selebar daun kelor.

===

Judul : Trouble is a Friend

Penulis : Trisna Dewi

Wattpad Id : trisnaddewi

Genre : Teen Fiction

Published : 15 Parts

Status : On Going

Visitors : 7,46k Reads. 3,08k Votes. (Sat, 14 Jan 2017)

Cover by : Deponu Cover

Last Update : 12 Januari 2017

Rating : 7.0/10.0

Sudut Pandang : Orang Pertama dan Orang Ketiga.

Copyright : All Right Reserved

20170116_045243_quote_image

Teen fiction here!

Yup benar, kamu dan saya tidak salah baca kok. Trouble is a friend adalah cerita yang ditulis oleh salah satu member Jendela Kata yaitu Trisna. Cerita ini seringan kapas. Mungkin kurang dari satu jam saya bisa menyelesaikan membaca 15 part. Sangat khas teenfiction. Genre ini biasa mengangkat tema kehidupan remaja dan kesehariannya. Jujur, biasanya, jika ada yang promosi genre serupa di wall, saya akan tengok dan baca part pertamanya. Jika di part awal menceritakan tentang MOS, dengan segera saya akan langsung kabur. Mengapa? Tak adakah adegan awal selain MOS? Mengapa kebanyakan cerita teenfiction di wattpad beradegan awal MOS?

Oke, mungkin saya tak bisa menilai cerita dari adegan awalnya tanpa mempertimbangkan isinya. Tetapi, adegan awal sangat menentukan. Dan saya lebih heran lagi, karena kebanyakan cerita beradegan awal MOS justru memiliki banyak pembaca.

Sangat saya sayangkan mengapa Trouble is a friend juga mengawali kancahnya dengan adegan se-mainstream MOS? Itu hal pertama yang saya sesali. Padahal ide cerita yang menyenangkan harusnya di awali dengan sesuatu yang lebih dibanding hanya menceritakan MOS.

Kita kesampingkan dulu perihal MOS.

20170116_045643_quote_image

Trouble is a friend akan mengajak kita berkenalan dengan sosok Risty, si gadis pembimbang yang memilih menyimpan perasaan pada sahabatnya sendiri, terluka seorang diri karena sahabat yang ia sukainya justru menyukai sahabatnya yang lain.

Klasik? Saya juga berpikir demikian. Tetapi jangan dulu kabur dari tulisan ini karena saya akan memberi alasan-alasan mengapa Trouble is a friend patut kamu masukkan ke reading list-mu.

Novel ini menggunakan bahasa khas remaja yang tidak akan membuat kamu berpikir berulang kali untuk mengerti, cocok menemani waktu luang, cocok dibaca disela lima menit kegiatanmu. Saya juga menyukai setiap quotes yang penulis sajikan di tiap awal chapter, sangat dalam, bermakna luas, membantu pembaca meresapi makna yang ingin dia sampaikan dalam tiap chapternya.

20170116_045404_quote_image

Masa-masa sekolah yang biasa diceritakan di novel-novel ber-genre teenfiction termasuk juga dalam banyak adegan di novel ini. Alur cepat, pembaca tidak akan menjadi geram karena satu poin yang berlarut-larut. Tiga tahun masa SMA diceritakan dalam 15 part. Cepat, bukan?

Saya rasa penulis menganut aliran long life, tak berpaku pada satu dekade waktu cerita tertentu. Di part 14, diceritakan bahwa Risty telah berkuliah di Melbourne dengan meninggalkan sahabat-sahabatnya, tanpa pesan, dalam keadaan patah hati.

Mungkin yang membuat saya sempat mengerutkan kening adalah ketika mencoba memahami karakter tiap tokoh. Saya memang dibuat menikmati cerita dan segala konflik yang dipaparkan, tapi saya tak diajak mengenal tokoh-tokoh di sana. Kurangnya pendeskripsian karakter, tak ada ciri khas dalam diri tiap karakter, seolah semua tokoh sama dan hanya dibedakan dari cara mereka bicara, itu pun tak banyak membantu menjelaskan seperti apa diri setiap tokoh sebenarnya.

Diceritakan bahwa Risty adalah gadis pintar yang sudah tak memiliki orangtua. Tempatnya berbagi keluh-kesah hanya sahabatnya−Fai. Kedua kakaknya sibuk bekerja sehingga dia seringkali kesepian di rumah. Disebutkan juga bahwa Risty beberapa kali memenangkan olimpiade. Tapi penulis tak menunjukkan sisi Risty yang istimewa seperti itu, hanya memberitahu sekilas di narasi.

20170116_045554_quote_image

Penulis justru banyak memerlihatkan sikap Risty layaknya remaja biasa, tak ada yang menonjol. Pergi ke mall bersama teman-teman, nongkrong, curhat. Oke, mungkin ini wajar sebagai remaja. Tetapi harusnya, penulis juga menunjukkan sisi bahwa Risty itu ‘istimewa’. Seperti ini lho gadis itu, dia sudah tidak memiliki orangtua, tetapi dia berprestasi di sekolah, teman-temannya mendukungnya dengan baik. Dia cukup cuek meski sebenarnya kesepian. Penulis menyebutkan semua itu, tetapi tak menunjukkannya.

Saya tak menangkap sisi kesepian sama sekali dalam diri Risty. Dalam sebuah percakapan, Risty digoda kesepian karena menjomblo. Dan Risty pun membenarkan. Tetapi saya tak menangkap aura kesepian sama sekali dari dirinya.

Dia memang terkesan rapuh. Ekstrovert-kah? Introvert-kah? Saya tak bisa memilih di antara keduanya. Risty memilih menyimpan perasaannya, seolah dia seorang yang tertutup. Tetapi adakalanya dia mengeluarkan apa pun yang ia rasakan tanpa perlu susah payah. Kita ambil saja di tengah-tengah. Dia seorang ambivert.

20170116_045801_quote_image

Kenal Hercule Poirot? Tokoh dalam novel Agatha Cristie? Saya mengutip penilaian beliau tentang tokoh seperti Risty. Kepribadiannya tak seperti karakter wanita utama. Harusnya ada banyak hal yang bisa diceritakan dari seorang tokoh wanita utama, tetapi Risty tak memiliki kesempatan dieksplor lebih luas oleh penulisnya.

Banyak pula adegan-adegan tak perlu yang bertebaran, sehingga poin-poin utama cerita tumpang-tindih. Di awal, pada saat pertemuan pertama Risty dan Farra, agaknya tak perlu satu part khusus hanya untuk menceritakan pertemuan keduanya. Pertemuan bisa terjadi seiring berjalannya poin-poin utama cerita. Saya menangkap, dalam part ini, penulis ingin menunjukkan bahwa Risty mulai jatuh cinta pada Agam. Poinnya hanya itu, tetapi penceritaan terlalu berbelit, dan kesan yang ingin ditunjukkan jadi berkurang.

Tema cerita memang mainstream, namun penulis mampu menyisipkan pesan-pesan tersendiri dalam alur ceritanya sehingga tetap memiliki makna. Kekuatan persahabatan sangat ditonjolkan. Novel ini menunjukkan bahwa kekurangan perhatian dari keluarga dapat diisi dengan kasih dari sahabat.

Tokoh Farra dalam novel ini menambah bumbu konflik meski tak banyak adegan yang memuatnya, tak banyak pula deskripsi mengenainya. Dari caranya bicara, saya menyimpulkan bahwa Farra adalah gadis yang cantik dan agak centil. Oleh karena sifatnya itu, dia dengan mudahnya membuat Agam jatuh cinta.

20170116_045929_quote_image

Agam. Ya, tokoh utama pria yang merupakan pria yang dicintai Risty. Selain Risty yang tidak memiliki karakter wanita utama, Agam pun demikian. Saya sempat heran, bagaimana seorang pria menanyakan apa yang harus dilakukannya pada orang lain? Saat itu, Farra mengaku bahwa dia telah menduakan cinta Agam. Pria itu, yang sebelumnya mengatakan bahwa cintanya pada Farra sama sekali bukan obsesi semata, tiba-tiba menanyakan apa yang harus dilakukannya sekarang?

Setelah Farra menyuruhnya mengejar Risty, dia langsung melakukannya. Tanpa pikir, tanpa ragu. Seolah apa yang sebelumnya dia katakan pada Farra tak pernah terjadi. Seakan dia mencintai seseorang dengan banyak hati. Sekalipun hanya obsesi, saya rasa cinta tak akan berpindah secepat hitungan detik.

Jika pun hati Agam setampan wajahnya, dia harusnya bisa menjadi pria yang lebih gentle. Dia sungguh jauh dari kesan’seorang pria’. Baiklah, mungkin dia memang masih belum dewasa, tetapi setidaknya dia mengerti karena sudah berani ‘pacaran’, kan?

20170116_050040_quote_image

Penggunaan sudut pandang (pov) yang berubah-ubah dalam satu chapter agak mengganggu kenyamanan membaca. Ada baiknya, jika ingin menggunakan dua macam sudut pandang, tetap pertahankan satu chapter dengan satu jenis sudut pandang saja. Ini akan menambah kesan rapi dan tak membuat pembaca bingung. Gaya penulisan dengan banyak pov dalam satu chapter ini biasa saya lihat di fanfiction, tetapi jika dalam novel, akan lebih baik jika mencontoh gaya penulisan seperti novel-novel umumnya.

Setiap kali ada adegan Risty pov, penulis seringkali membubuhi tanda kutip pada apa yang Risty ucapkan. Benarkah gadis itu sering bicara sendiri begitu? Sepanjang itu? Dia mengatakan semua yang dia pikirkan? Jika tidak demikian, supaya lebih rapi, lebih baik tak perlu dibubuhi tanda kutip. Jika sudah ditulis sudut pandang Risty, pembicaraan tokoh dengan dirinya sendiri tak perlu seakan dia bicara dengan orang lain.

Ada beberapa kejanggalan yang ingin saya tanyakan. Apa perlu masuk ke rumah sendiri dengan mengetuk pintu? Padahal diceritakan Risty terbiasa di rumah sendirian. Saya masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu tapi mengucapkan salam. Apa tak terasa aneh mengetuk pintu untuk masuk ke rumah sendiri padahal tidak dikunci dan kita tahu ada kakak kita di dalam?

Penggunaan mobil yang bebas bagi para pelajar, rasanya tidak umum. Memang mungkin sekolah mereka tempat anak-anak kalangan atas. Tetapi, sudahkah mereka memiliki surat izin mengemudi mengingat usia mereka? Tidakkah hal ini mendidik yang kurang baik bagi pembaca?

Saat Risty memberi alasan tak sempat makan pada jam istirahat karena diminta membawakan buku ke kantor oleh gurunya, saya bertanya sendiri, apakah mengantar buku ke kantor guru mengabiskan waktu istirahat? Alasannya kurang masuk akal. Tapi Farra mengiyakan tanpa protes.

Adegan ketika Risty meminta izin untuk memeluk Agam, dan Agam langsung melangkah cepat memeluk Risty, terkesan agak janggal di hati saya. Permintaan Risty mendadak, dan Agam masih sangat terkejut, apalagi dia baru saja menolak Risty. Tidakkah dia terkesan sangat gampangan? Oke, ini tidak berdasar dan relatif. Tapi kalau ditelaah, orang yang terkejut tak akan secepat itu refleks. Dan orang yang sudah berbuat nekat seperti Risty, tentu akan lebih mungkin menambah aksi setelah ditolak seperti itu.

Dalam bayangan saya, adegan ini akan jadi lebih dramatis jika Risty yang berlari menghampiri Agam, meminta izin memeluk tapi langsung memeluk tanpa menunggu persetujuan Agam. Jika begini, kesan tak enak di hati Agam tentunya lebih membekas. Dan pembaca akan lebih kasihan pada Risty.

20170116_050209_quote_image

Mungkin penulis ingin membuat Agam tampak gentle. It’s okay. Tak masalah.

Saya tidak tahu penulis ingin menjadikan cerita ini berapa chapter. Tapi sepertinya perjalanan kisah Risty masih panjang. Saya berharap Agam mendapat pelajaran sehingga sifatnya yang terkesan tak dewasa itu lambat laun bisa berubah.

Kisah ini penuh kejutan. Apalagi dengan kehadiran sosok pria lain yang kemudian menjadi kekasih Risty. Akankah Risty dan Agam bersatu? Atau justru keduanya tak ditakdirkan bersama?

Dengan baik hati penulis menanyakan kisah ini mau happy atau sad ending. Banyak yang berkomentar. Tapi, saya pribadi lebih menginginkan penulis menyelesaikan karya ini sesuai kata hatinya.

Sahabat tak selamanya sekadar sahabat. Siapapun bisa tiba-tiba tampak istimewa meski mungkin setiap harinya bertemu dan sama sekali tak ada rasa yang menyelip. Tetapi cinta tak mengenal waktu, tak mengenal siapa, datang tanpa peringatan.

Ada satu kisah tentang cinta dan persahabatan dari sekian banyak yang pernah dikisahkan di dunia. Trouble is a friend akan membawamu ke dalam keyakinan, bahwa tak ada persahabatan yang murni tanpa celah untuk rasa sakit, amarah, bahkan cinta.

Terima kasih sudah menyimak review dari saya.

Sampai jumpa di review selanjutnya.

Click here to read Trouble is a Friend by trisnaddewi

 

Review by

Nindya Chitra

Visit Jendela Kata on wattpad for request the review

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s