(Wattpad Review) Di Saat Bulan Menunggu -Bintang Benaya Diandra

picsart_01-17-06-20-40

I’ll be waiting,

for the day we become one.

I’ll be waiting,

’till the day you return.

I’ll be waiting,

with my heartstill open for you.

No matter how long.

No matter how chrushed my heart.

I’ll be waiting for you.

===

Judul : Disaat Bulan Menunggu Bintang

Penulis : Benaya Diandra

Wattpad id : AyDira

Genre : Teen Fiction

Published : 13 parts

Status : On Going

Last update : Jan 6, 2017

Cover by : blackamberdon

Rating : 6.8/10.0

Sudut Pandang: Orang Pertama

Copyright : All Right Reserved

Visitor : 4,73 Reads, 1,49 Votes, 439 Comments (Jan 15, 2017)

img-20170115-wa0004


Oke, sebelumnya ini pertama kali saya menulis review cerita. Spesialnya, cerita yang saya review berasal dari teman kita di Jendela Kata, Dira^^. Bila ada kekurangan, mohon dimaafkan. Kalian bisa menambahkan atau membenahi jika review saya ada kesalahan. Kita bisa sama-sama belajar^^.

Dari title, saya berpikir jika penulis menggunakan semacam antologi untuk tokoh ceritanya. Ternyata ‘Bulan dan Bintang’ itu benar-benar nama asli mereka setelah membaca awal part. Lalu turun ke blurb, isi blurb cukup menggambarkan inti cerita yang ingin disampaikan penulis dengan adanya quotes yang tertera di sana. Beberapa quotes juga masih setia mengiringi saya hingga memasuki prolog. Dalam prolog, penulis mulai mengembangkan inti cerita, walaupun sangat ‘sedikit’. Namun itu tetap membuat pembaca penasaran akan kelanjutannya.

Seperti judulnya, kita akan disuguhkan dengan kisah Bulan yang menunggu sang pujaan hati–Bintang–membalas perasaannya. Dia menunggu selama tiga tahun. Ditambah lagi, keberadaan Clara di samping Bintang menjadi tembok penghalang bagi Bulan. Kita diajak untuk menyelami rasanya menjadi seorang Bulan, rasanya menunggu seseorang tanpa ada respon darinya. Sakit yang ia alami ketika melihat Bintang dan Clara bersama.

20170115_201939_quote_image-1

Cerita ini cocok untuk kalian yang menyukai cerita dengan konflik percintaan ala remaja. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti semua kalangan membuat kita tak perlu memutar otak untuk memahami bahasa tersebut. Cerita ini juga dapat dibaca saat waktu longgar.

Kehadiran Fanya dan Lala membuat Bulan bangkit dari keterpurukan. Mereka selalu menguatkan Bulan disaat air mata Bulan tak mampu dibendung. Ditambah dengan lampu hijau dari sahabat Bintang–Varo dan Radit–membuat Bulan tak berputus asa untuk terus berharap. Dari cerita ini, dapat kita simpulkan bahwa peran teman dan sahabat memang penting. Tempat kita berbagi suka dan duka. Mendukung satu sama lain. Rasanya akan terasa hambar bila tanpa mereka.

20170117_121632_quote_image-1

Namun, saya merasa penggambaran tokoh  kurang kuat. Mulai dari sahabatnya Bulan, sahabatnya Bintang, apalagi Bintang yang merupakan peran utama cowok. Tidak ada keunikan atau ciri khas yang membedakan tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi. Tapi di sisi lain, saya bisa menangkap karakter Clara yang terkesan mudah bad mood. Juga karakter Nadine yang genit terhadap Bintang. Kedua karakter itu dapat dilihat perbedaanya dari cara mereka mengekspresikan emosional melalui keterangan yang tersedia, didukung dialog yang menunjang penguatan karakter.

Saya merasa heran pada saat Clara menangis karena ditegur Bintang perihal Clara menyebut Bulan dan Bintang itu cocok (karena nama mereka saling berkaitan). Menurut saya itu berlebihan Apalagi waktu Bintang memeluk Clara ‘di tempat umum’ sekedar untuk menenangkan Clara dari isak tangis. Bagi saya, adegan itu kurang pas dengan latar tempat di Indonesia. Sebab, budaya yang kita anut merupakan budaya timur, dimana norma kesopanan dijunjung tinggi. Kecuali jika penulis mengambil setting di benua Eropa atau Amerika yang notabene menganut budaya Barat.

20170117_125721_quote_image

Di setiap chapter, dialog dan narasi tidak seimbang. Istilah lainnya jomplang. Ada juga chapter yang justru dialognya mendominasi. Jujur saja, dialog yang  diakhiri ‘ujar, jawab, ucap, tanya, dll’ secara terus-menerus membuat saya merasa sedikit jengah. Untuk menulis fiksi, perlu dipertimbangkan penulisan narasi dan dialog agar terlihat seimbang.

Oh iya, saya sarankan untuk penulis agar tidak menyisipkan narasi dan dialog yang tidak ada hubungannya dengan plot cerita. Seperti saat Bulan dan sahabatnya akan memesan makanan. Tak perlu disampaikan apa saja yang akan dipesan lewat dialog.

Mungkin, penulis belum pernah merevisi ceritanya. Sebab di beberapa bab, saya menemukan ‘beberapa’ kata asing yang tidak dicetak miring, penggunaan kata hubung ‘di’ yang masih keliru, penggunaan kata ‘ku’ (misal: tangan’ku’, mobil’ku’) yang berlebihan, akhir dialog yang masih menggunakan koma tanpa lagi ada narasi yang mengikuti, serta pengguanaan tanda elipsis (…) yang kurang tepat. Sebaiknya jika ada waktu senggang, penulis bisa memanfaatkannya untuk membaca ulang. Bila terdapat kejanggalan  dalam cerita, segera ganti. Merevisi pada bagian yang kurang tepat seperti ejaan, tanda baca, typo, dan lain sebagainya.

img-20170115-wa0005

Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik akan cerita ini. Pertama, lamanya Bulan menunggu Bintang menanggapi rasa sukanya. TIGA TAHUN. Itu bukan waktu yang singkat, saya bisa melihat jika Bintang merupakan sosok yang penyabar. Dua, saya juga pernah mengalami hal yang serupa dengan Bulan. Seolah-olah saya seperti membaca kisah saya sendiri:’). Entah mengapa saya malah keterusan curhat. Tiga, saat Bulan dan kawan-kawan menguntit kepergian Bintang-Clara dengan mobil. Itu benar-benar adegan yang lucu menurut saya. Serasa menonton progam Katakan Putus Trans TV. Cuma bedanya mereka tidak berdiam diri di dalam mobil dan mengandalkan kamera tersembunyi, melainkan ikut turun dari mobil. Mengambil jarak dari targetnya agar tak ketahuan.

Sekian review dari saya. Terimakasih telah menyimak:).

Maaf atas ketidaknyamanan akibat terlambatnya review. Jujur, saya masih belajar menyusun kata per kata. Dan juga, saya orangnya gak bisa bagi waktu, sehingga kurang memprioritaskan review ini.

Sekali lagi saya minta maaf, terimakasih atas pengertiannya.

Click here to read Di Saat Bulan Menunggu Bintang

 

Review By

Safira Laurensia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s