(Wattpad Review) Ro-Se by Dewi Sekar Kinasi

 

Kisah humor romantis dua pasang kekasih.

Arro-Selma.

Reno-Cellia.

===

Judul : Ro-Se

Penulis : Dewi Sekar Kinasi

Wattpad id : mdjnnn

Genre : Teenfiction

Published Part : 32 Parts (31 Januari 2017)

Last Updated : 30 Januari 2017

Rating : 7,0/10,0

Visitor : 9,24k reads. 5,12k votes. (31/01/2017)

Copyright : All Right Reserved

20170131_072851_quote_image

Mohon maaf untuk keterlambatan posting review ini. JK sedang melangsungkan event internal grup, jadi belakangan ini, chief sedang disibukkan dengan event yang sedang berlangsung. Terima kasih karena sudah menunggu dengan sabar.

RO-SE, judul novel karya Dewi Sekar Kinasi ini dapat diartikan menjadi dua filosofi. Jika diamati, judul Ro-Se dapat berarti singkatan dari dua nama tokoh utamanya, yaitu Arro dan Selma. Sekilas kata ROSE bisa juga berarti bunga mawar. Ide judul yang menurut saya menarik dan unik.

Teenfiction ini saya rekomendasikan karena memiliki poin-poin unik yang akan membuat mengajarkan untuk menyikapi hubungan percintaan dengan cara pandang berbeda. Selipan-selipan humor juga banyak bertebaran, kamu tak akan bosan membacanya.

Karakter yang paling unik menurut saya adalah ibu Arro—Mita. Dia diceritakan sebagai ibu muda yang agak centil, lucu, dan sering menjadi bahan candaan anaknya. Hubungan ibu dan anak yang unik, karena apabila berdebat, Arro-lah yang pasti menang dan berhasil mengelabui ibunya. Saya selalu suka adegan ibu dan anak ini. Chemistry-nya oke, meski ada beberapa humor yang terkesan agak garing.

20170131_074747_quote_image

Sementara di sisi tokoh utama wanita, kita akan diajak untuk mengenal seorang Selma—gadis berjilbab yang lugu dan baik hati. Dia awalnya tinggal di desa. Ia pindah ke Jakarta karena mendapat beasiswa. Singkat kata, ia bersekolah seperti biasa dan berkenalan dengan teman sekelasnya yang bernama Cellia.

Cellia adalah gadis kota yang baik. Mereka dengan mudahnya bisa akrab. Cellia yang cerewet namun pengertian mampu mengimbangi sifat Selma yang lebih pendiam. Mereka saling mengisi dalam membangun hubungan dekat sepasang sahabat.

Cerita dimulai ketika Arro yang notabene-nya adalah sepupu Cellia, bertemu dengan Selma. Sifat Arro yang memang blak-blakkan dan cengengesan membuat Selma risih. Tapi bukan Arro namanya jika tidak jahil. Setiap hari Arro selalu mengganggu Selma. Pernah dia menyanyikan lagu dengan gayanya yang sok cool, tetapi justru membuat Selma menangis haru.

Selma yang pertama kali menyadari perasaannya pada Arro. Dia menceritakan hal itu pada Cellia, kemudian Cellia-lah yang meminta Arro untuk memberi kejelasan. Cellia tak ingin Arro main-main dengan sahabatnya. Detik itu juga, Arro tiba-tiba memutuskan untuk melamar Selma.

Ya, sebuah keputusan yang terlalu mudah dibuat untuk remaja seusianya. Cerita berlanjut, Arro, Mama dan Papanya pergi ke kontrakan Selma dengan maksud melamar. Namun kemudian, Selma justru mengajak Arro taaruf terlebih dulu. Taaruf adalah pacaran secara islami. Sayangnya, di cerita ini kurang diceritakan tentang hal itu sehingga kesan taaruf dan pacaran biasa tidak banyak berbeda.

20170131_075117_quote_image

Selma dan Arro yang telah bersatu kini membantu Cellia dan Reno—sahabat Arro untuk kembali bersatu pula. Dulu, Cellia dan Reno adalah sepasang kekasih, tetapi mereka berpisah karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh Tasya—sahabat Cellia dulu.

Kemunculan Tasya ini seperti bumbu dalam kehidupan mereka berempat. Tasya si antagonis yang sombong dan tak tahu malu, berkebalikan 180 derajat dari tokoh Selma yang lurus.

Sayangnya, saya sering menemukan dialog-dialog yang terkesan janggal. Semua adegan pun terasa datar, padahal alurnya banyak bergejolak. Pada bagian sedih, kurang penggambaran sehingga pembaca kurang bisa ikut menjiwai apa yang dirasakan tokoh. Penggambaran latar juga sangat kurang.

Satu hal yang sangat saya sayangkan adalah chemistry antara Arro dan Selma yang kurang mendapat perhatian serius. Mereka tokoh utama, tetapi saya justru mendapat kesan lebih dalam ketika membaca adegan antara Reno dan Cellia, mereka pas, cocok bersama. Harusnya, penulis menggambarkan lebih detail pada masa pendekatan Arro ke Selma, sehingga pembaca akan lebih mendapatkan chemistry yang dalam antara dua tokoh utama itu.

Ada beberapa adegan janggal. Pertama yang saya ingat adalah pada saat Cellia dan Selma bertemu. Saat itu mereka berpelukan dan mengobrol dengan sangat kaku seakan itu adalah obrolan teks bahasa Indonesia. Ya, menurut saya, itu agak tidak situasional. Meskipun Selma dari desa, seharusnya penulis membuat gaya bicaranya di adegan itu lebih lisan.

Kedua, diceritakan bahwa Tasya menderita penyakit ginjal. Penggambaran tentang poin ini kurang sekali. Penulis justru menggambarkan Tasya sebagai sosok yang jahat. Benar-benar jahat. Mungkinkah orang berpenyakit separah ginjal bisa sejahat itu? Oke, memang ada mungkin. Tapi hal ini kurang dieksplor dan ditampilkan sehingga saya sebagai pembaca merasa sangat kurang mengenai ‘Adakah orang yang sedang sakit parah bersikap seusil Tasya?’. Saya harap, ada tanda-tanda yang menunjukkan Tasya itu sakit, meski tanda itu terselubung. Sehingga pembaca jadi bertanya-tanya, ada apa sih sama si Tasya sebenarnya?

Saya membaca, penulis berkomentar tentang banyak yang menghujat jalan cerita Ro-Se seperti sinetron. Saya anggap penilaian itu wajar, karena saya pun beranggapan begitu. Ada beberapa poin yang perlu diperbaiki agar ‘kesan sinetron’ bisa jauh-jauh dari Ro-Se. Pertama, tentang sebuah kepercayaan. Seringkali saya menonton sinetron, dan kebanyakan, tokoh utama wanita jarang dipercayai tokoh lain, bahkan tokoh utama pria-nya sendiri.

20170131_075037_quote_image

Dalam dunia nyata, cinta dilandaskan kepercayaan. Jadi, seseorang yang benar-benar mencintai kamu tidak akan mudah goyah dan pasti selalu percaya pada kamu. Jika pun dia tidak percaya, yang pertama dilakukannya harusnya adalah mencari kebenaran tentang apa yang dikatakan orang lain tentangmu, mencari kamu langsung, dan menanyakan kebenarannya.

Jadi, saat Arro langsung terpengaruh karena selembar surat. Sangat disayangkan.

Mungkin Cellia dan Reno mudah terpengaruh karena dia hanya sahabat. Saya harap penulis lebih memerhatikan hal ini.

Lalu, ada lagi yang tak sesuai logika. Tasya dan Ratih mengancam Selma, jika dia tidak pergi meninggalkan kota serta Arro, mereka akan mencelakakan anak-anak panti. Tapi setelah Selma pulang, penulis mengatakan bahwa anak-anak panti telah diadopsi oleh orang-orang kota. Otomatis mereka sudah saling terpisah, bukan? Lalu, mengapa Selma mempan dengan ancaman itu? Mungkinkah Tasya-Ratih mampu mencelakakan anak-anak panti yang sudah terpisah-pisah begitu dan hidup bersama orang tua asuh mereka masing-masing? Kalau memang iya, apa mereka tidak ada kerjaan lain?

Di part akhir, dikatakan bahwa Arro sangat polos mengenai cinta. Mungkinkah orang sepolos dan sebersih dia mudah percaya hasutan?

Secara keseluruhan Ro-Se sangat bagus. Terbukti penggemarnya sudah banyak lho. Karena novel ini masih on-going, mari kita kasih semangat untuk authornya supaya lekas menyelesaikan kisah ini.

Sekian review dari saya. Mohon maaf untuk keterlambatan posting. JK lagi sibuk-sibuknya event. Sekali lagi terima kasih Dewi Sekar Kinasi, sudah mempercayakan tulisan ini pada kami.

Akhir kata, jangan lupa follow akun chief JK yaa (@ndyaachitra, @gustiamardalena, @firala_). Kami menghargai karyamu. Kamu juga harus menghargai usaha kami. Penulis yang baik nggak akan bohong kan ya? Hehe. Biar Allah membalas kebaikan penulis.

Thank you so much. Kamsahamnida.

Click here to read Ro-Se

 

Review by

Nindya Chitra

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s