(Wattpad Review) Cerita Tentang Kita By Selvia Sari


​’Cukup dengan merasakannya, kau akan tahu itu cinta atau bukan.’

Dari insiden menghilangkan topi kakak kelas, Nada bertemu dengannya. Namanya Sena. Mereka bertemu, melakukan pendekatan, dan akhirnya berpacaran.

Akan tetapi…

Masa SMA yang diharapkan Nada seolah pupus begitu saja karena dia kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya, Gio. Dia memang menggilai cowok itu saat SMP tapi kini semua telah berbeda, dia mati-matian berusaha untuk membenci Gio karena ‘sesuatu’.

Jika kamu disuruh memilih antara masa lalu dan masa sekarang, manakah yang akan kamu pilih?

Dan di antara Sena dan Gio, manakah yang akan menjadi cinta terakhir Nada?

===

Judul : Cerita Tentang Kita

Penulis : Selvia Sari

Wattpad Id : misfil

Genre : TeenFiction

Published : 14 Parts

Status : On Going

Visitors : 10,07k Reads. 3k Votes. (Tue, 4 Apr 2017)

Cover by : @worteloren

Last Update : 9 Maret 2017

Rating : 7.1/10.0

Sudut Pandang : Orang Ketiga.

Copyright : All Right Reserved

Read more: 👉 Cerita Tentang Kita

Review by : @ndyaachitra



Kesan pertama yang aku dapat ketika membuka Cerita Tentang Kita adalah covernya yang eye-cathching, cocok dengan ceritanya yang memang sangat romance. Kita akan diajak berkenalan dengan sosok Nada Almira—gadis yang mengalami berwarnanya masa putih abu-abu. Cerita Tentang Kita menyajikan satu teka-teki. Aku bahas teka-teki ini di awal karena teka-teki ini yang akan mengawal pembaca menyelami setiap detail peristiwa yang berjalan di setiap partnya.

Nada membuka sebuah amplop persegi panjang di puncak—entah di puncak mana—dengan bayangan seorang pria di kepalanya. Pria yang dirindukannya itu berasal dari kenangan sepuluh tahun lalu. Di sinilah kisah dimulai. Masa putih abu-abu yang kembali diulang memang tak pernah kehabisan cerita.

Alur mundur mulai disajikan.

Satu tanda tanya yang penulis sajikan di awal cerita adalah : Siapa pria yang Nada rindukan?

Nah, cerita ini ada untuk menjawab pertanyaan itu.

Dari puncak antah berantah di mana Nada memikirkan seorang pria sambil mempertimbangkan akan membuka amplop di tangannya atau tidak, kita akan diajak berkelana memecahkan teka-teki penulis mengenai siapa pria yang Nada nantikan di puncak itu dengan mengubas sejarah masa SMA gadis itu.

Aku cukup suka dengan ide kreatif penulis yang meskipun menyuguhkan MOS sebagai peristiwa pertama untuk mengawali kisahnya seperti kebanyakan novel teenfiction lainnya tetapi juga menambahkan insiden topi ke dalam hal krusial yang menentukan awal hubungan cinta Nada.

Aku sempat senyum-senyum sendiri ketika membaca awal-awal Cerita Tentang Kita, khususnya part pertama. Ekspektasiku mengatakan cerita ini akan jadi cerita yang menarik sekali. Sayang, ketika aku bertandang ke part kedua, tiba-tiba terjadi semacam loncatan alur yang memupuskan kesan menegangkan yang penulis bangun di akhir part pertama.

Pada akhir part pertama diceritakan Nada benar-benar kaget karena orang yang ia hindari tiba-tiba meng-add akun facebooknya. Secara naluriah, jika sebelumnya Nada berusaha menghindari si pemilik topi, seharusnya setelah dihadapkan dalam situasi demikian, dia pasti memilih tetap menghindar dan bersembunyi.

Aku membayangkan betapa serunya jika Nada terus bersembunyi sedang si empunya topi berusaha mengejarnya. Sayangnya tidak demikian. Di part 2 langsung diceritakan bahwa Nada mulai sering stalking si pemilik topi yang notabene adalah kakak kelasnya.

But, sebelum lompat lebih jauh, aku akan kupas tokoh-tokoh dalam novel ini selain Nada tentunya.

Ada dua tokoh utama pria dalam novel ini. Pertama Arsena atau pendeknya Sena, si pemilik topi yang dekat dengan Nada secara tidak sengaja (insiden topi yang aku ceritakan sebelumnya). Dia cuek, terlihat pertama kali dari caranya menanggapi pesan dari Nada saat awal-awal pertemuan mereka. Dia pria yang tak suka mengumbar perasaan. Nada seringkali mengatakan bahwa perasaan Sena terhadapnya terlalu abstrak untuk disebut cinta. Sebenarnya, aku juga berpikir demikian. Selain kata ‘cuek’ dan ‘kurang peka’, mungkin jika jadi Nada, aku akan menambahkan ‘enyah aja lo!’ untuk menyebut cowok satu ini!

Kamu akan diajak berkali-kali merutuki sikap Sena yang terkadang tidak bisa dinalar sebagai sikap seorang pria gentle.

Pria kedua, Gio namanya. Awalnya aku menilai Gio ini terlalu childish. Dia kelihatan banget nggak tahu diri setiap kali maksa Nada untuk memperlihatkan hasil pekerjaan rumahnya. Aku sempat berpikir, “Kenapa cowok kayak gini nggak ditonjok aja sih?”

But, real, setelah menyelami lebih jauh, aku mulai mengerti kenapa Gio bersikap childish kayak gitu. Dia sebenarnya cuma caper. Ya, aku ngerti, bagi Gio, dia akan lakukan apa pun demi bisa selalu dekat dengan Nada. Sayang sebaliknya, Nada justru akan lakukan apa pun demi bisa menjauhi Gio.

Dan Gio selalu punya cara untuk mengatasi Nada yang berusaha mengelak darinya. Nada di dekat Gio tampak luwes, chemistry mereka oke, dan katanya mereka punya masa lalu. Katanya lho, aku nggak bisa mastiin ini karena penulis nggak ngasih gambaran apa-apa tentang masa lalu dua sejoli ini. Di summary, penulis memang mengatakan bahwa Nada dan Gio kenal sejak SMP, tetapi ketika mulai berceloteh tentang Gio, penulis tak lebih dulu mengatakan pada pembaca siapa sih nih cowok? Siapa dia tiba-tiba ngomong dengan nggak tahu diri kayak gitu ke Nada? Penulis tidak menjelaskan perihal itu.

Di sana dikatakan, peringkat Gio selalu lebih tinggi dibanding Nada. Karena penulis tidak mengatakan bahwa selalu yang dimaksud itu waktu mereka SMP, aku jadi beranggapan bahwa cerita ini lompat ke beberapa bulan setelahnya. Karena sebelumnya kan mereka baru menjalani MOS, masa tahu-tahu udah ada peringkat sih?

Berbagai pertanyaan langsung melintas.

Kok lompatnya cepet banget sih?

Kok jadi fast plot gini padahal lagi asik-asiknya.

Saran aku, bagian ini diperjelas supaya pembaca nggak salah persepsi seperti yang aku alami.

Dan ada dua tokoh lagi yang jadi bumbu penyedap cerita ini, yaitu Mia dan Koko. Couple yang jadi sahabat dekatnya Nada.

Aku menikmati cerita ini. Bener, deh. Nggak semua cerita teenfict aku suka, tapi cerita ini bisa bikin aku betah baca tanpa ngerasa sumpek. Supaya tambah sedap, saranku, mungkin di bagian-bagian tengah agak dikurangi penggunaan alur yang bertele-tele. Hal ini membuat pembaca lelah sebelum mendapatkan point utama yang ingin penulis sampaikan dalam part ceritanya.

Penggunaan kata ganti aku-kamu dan gue-lo antara Gio dan Nada harus lebih diperhatikan. Aku menemukan beberapa bagian yang tak konsisten antara dua kata ganti itu.

Cara Nada berkomunikasi dengan orangtuanya sempat membuatku mengerutkan alis. Terutama dengan Mamanya. Mama Nada sempat muncul beberapa kali, tapi penulis tak sedikitpun memberikan celah pada pembaca untuk mengenali wanita itu. Padahal kupikir, ada beberapa celah di mana Mama Nada akan bagus jika mendapat part bicara lebih banyak.

Lalu, di beberapa part aku menemukan plot-plot yang kurang fokus sehingga terkesan boros. Hm, gimana ya bahasanya. Istilahnya seperti : Jika dihilangkana bagian itu maka nggak akan pengaruh apa-apa sama cerita. Jadi saranku, bagian-bagian yang seperti itu dipangkas saja supaya pembaca tidak gerah dan semakin fokus sama inti poin-poin yang ingin penulis suguhkan.



Seringkali juga aku tersendat karena penulis terlalu sering mengganti keberpihakan dalam sudut pandang. Sudut pandang orang ketiga memang membebaskan penulis untuk memilih ingin bercerita dari sudut mana pun, tetapi jika dalam satu bagian saja penulis berganti lebih dari dua orang keberpihakannya, jadi terkesan kurang rapi.

Menurutku, jika ingin mengganti keberpihakan, lebih bagi menggunakan sekat. Memang tak semua penulis memberikan sekat setiap kali menggangi keberpihakannya dalam bercerita. Namun menurutku, sekat itu tetap penting demi kenyamanan pembaca dan kerapian tulisan.

Perihal Koko dan Mia yang jadian juga menimbulkan satu pertanyaan. Kapan Kak Naga dan Mia putus?

Entah aku yang kurang fokus atau memang tidak ada keterangan untuk hal itu.

Aku menyayangkan kenyataan bahwa penulis kurang mengeksplor tiap tokohnya padahal sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga di mana bisa sebebas-bebasnya berekspresi. Ada bagian ketika pembaca akan bagus jika diajak menyelami satu peristiwa dalam sudut pandang dua orang berbeda sehingga akan menambah feel cerita. Sayang penulis tak menggunakan yang demikian.

Sebagai pembaca, aku ingin menyelami lebih dalam, merasakan apa yang tokoh itu rasakan, mengenalnya bukan hanya sebagai tokoh dalam fiksi tetapi membuatnya seolah benar-benar nyata. Magic seperti itu akan menjadikan cerita tampil hidup. Paragraf ini bukan saran kak Selvia, ini curhatan aku. Hehe. Skip aja.

But over all, aku salut sama kak Selvia karena dia selalu bisa buat kalimat akhir yang memikat. Aku suka gaya kalimatnya setiap kali mengakhiri tiap part tulisannya. Itu poin plus-plus tersendiri yang membuat pembaca selalu ingin lanjut membaca tulisannya, bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Novel ini juga sudah terbit dalam versi cetak. Penampakannya seperti di bawah ini :

Kalau kamu penasaran dan ingin baca versi lengkapnya, mending langsung beli yang cetak aja. Gimana caranya? Silakan langsung hubungi penulisnya @misfil. Dia pasti akan welcome banget. Selain Cerita Tentang Kita, kak Selvia sudah menulis banyak karya, bisa langsung di cek di akun wattpadnya ya gaes.

Last, thank you so so so much untuk penulis yang sudah memberikan kepercayaan terhadap JK untuk menuliskan review untuk karyanya. Sukses terus untuk penulis Cerita Tentang Kita, kak Selvia. Next time, jangan kapok di review oleh kami.

Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.


Best regards,

@ndyaachitra

Chief Owner JK

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s