(Wattpad Review) Romeo dan Jupiter by Tiara Surya


​Bagai mendung, hujan, dan matahari.

Di satu sisi, mendung begitu kuat dengan gemuruhnya. Tapi ia melupakan suatu hal bahwa bisa luruh karena hujan.

Dan untuk hujan, dia melupakan mendung dengan adanya matahari. Air dalam samudera terlalu menatap matahari dengan pukauannya.

Tapi, matahari selalu mengingatkan kepada hujan yang jatuh dalam samudera jika mendung itu ada.

Di sini tidak ada yang tidak tersakiti, dan semua itu sepadan.

===

Judul : Romeo dan Jupiter

Penulis : Tiara Surya

Wattpad id : blackamberdon)

Genre : Teenfiction

Published : 14 part

Status : On Going

Rating : 6.7/10.0

Sudut Pandang : Orang Ketiga

Copyright : All Right Deserved

Visitors : 436 viewers; 183 voters (09 April 2017)

Selengkapnya.. Romeo dan Jupiter




Dapat kesempatan kedua buat ikutan review di acara JKReview. So thank you! Kali ini dapat bagian buat nge-review ceritanya Tiara a.k.a Idon, mantan member JK. Buat Idon, sebelum baca aku minta maaf karena nanti mungkin aja ketemu kata-kata yang nggak mengenakkan hehe.
Pas pertama kali lihat, aku langsung kepincut sama cover-nya yang ucul. Simple, nggak banyak ornamen-ornamennya. Nggak sia-sia deh kayaknya yang punya akun seorang covermaker​. Bergerak ke blurb, aku juga suka! Pilihan katanya itu kayak udah dipertimbangin banget. Analoginya hujan, mendung, matahari, duh, melting. Yah, walaupun masih abstrak belum ketemu apa-apa. Tapi namanya juga blurb harus berhasil buat yang baca penasaran dan lanjut ke chapter. Dan aku rasa lewat diksi yang jleb itu kamu berhasil ngajak aku buat masuk ke dalam dan baca tiap part-nya.

Aku mulai baca, dimulai prolog yang juga buat penasaran pembaca buat mengungkap apa sebenarnya yang terjadi antara Anjani-Fio-Angga. Setelah itu masuk ke tiap part. Jujur aja, entah aku yang kurang konsentrasi atau gimana, tapi aku susah banget buat dapetin titik temu cerita ini. Agak kelabakan juga pas banyak tokoh lain yang bermunculan. Belum ada scene petunjuk, langsung hadir seorang Revan. Temannya Reno. Ada lagi Riska. Agak bingung gitu. Fokusnya jadi hilang dari prolog yang ingin menguak Anjani-Fio-Angga.

Tapi aku cepat sih nyimpulin ceritanya (dari 14 part keseluruhan). Inti ceritanya itu, tentang seorang cewek–yang entah kenapa penokohannya dijadiin seorang pemain basket bareng anak cowok–bernama Anjani. Sahabat Anjani namanya Fio. Fio punya pacar namanya Angga. Sejak di part pertama udah diceritain kalau Fio pindah ke luar negeri. Jadinya, Fio sama Angga LDR-an. Yang jadi masalah, aku menangkap sinyal aneh dari Anjani sama Angga. Menurut persepsi aku, mereka itu saling suka. Tapi Anjani selalu nyembunyiin, karena sadar Angga itu pacar sahabatnya sendiri. Dan Angga jadi cowok brengsek yang melirik cewek lain yang jelas-jelas sahabat pacarnya. Keadaan mereka diperparah Fio–yang di prolog–nyuruh si Angga buat nganterin Anjani pulang. Ditambah lagi keputusan Fio buat pindah, alhasil membuat perasaan di antara mereka–Anjani dan Angga–makin besar kemungkinan untuk bertambah. Datanglah seorang Revan, yang jadi malaikat penghibur Anjani. Yang diam-diam suka sama Anjani, tapi nggak berani buat ngungkapin. Dia ngasih banyak banget perhatian. Tapi tipe Anjani yang sedikit apatis, buat dia lupa cara buat peka sama Revan yang udah berjuang mati-matian.

Mungkin klise. Topik yang emang sering banget muncul di cerita teen. Tapi aku berharap lebih sama part-part selanjutnya. Aku tau jalan ceritanya masih panjang. Kelihatan dari skala throwback yang ada. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi di masa lalu antara mereka-mereka (ini asli persepsi aku aja sih).

Selesai dengan cuap-cuap perkenalan sekarang masuk ke tujuan awal aku baca semuanya.

Pas baca judul, Romeo dan Jupiter. Aku rasa menarik. Yang biasanya seorang Romeo dipasangkan dengan Juliet atau biar kelihatan Indonesia, Juminten, tapi ini beda, malah dibuat bareng Jupiter. Aku awalnya mau vonis, kalau judulnya mainstream, dan mau nebak kalau nama tokoh utamanya pasti Romeo dan Jupiter. Tapi aku salah, setelah baca 14 part aku nggak nemu yang seperti itu. Cuma ada dikasih sedikit clue lewat kata-kata Fio yang bilang, “Noh Romeo lo udah noleh mulu dimari,” Bingung juga sih, kenapa coba Fio bilang gitu padahal Angga pacarnya?! Tapi ya, itulah misteri cerita ini yang buat penasaran pembaca. Clue yang kedua ketemu di scene Revan nanya planet favorit Anjani dan dia jawab, Jupiter. Itu aja yang aku temuin soal judulnya.
Dari semua part yang aku baca, kayaknya aku lihat kamu terobsesi buat setiap kata itu jadi puitis. Sepuitis blurb-nya. Nggak salah ya, aku rasa dengan mencoba itu kamu cuma pengen ceritanya menarik dan berisi. Jadi kenapa aku bilang kamu terobsesi? Karena yang aku lihat, kamu terlalu ngotot dalam milih diksi. Dan yang ada hasilnya malah jadi kayak kalimat puitis yang “dipaksain” gitu. Aku bilangnya gimana ya, hmm mungkin setiap kalimat jadi nggak ngalir. Banyak kata-kata puitisnya, tapi kadang nggak cocok peletakannya. Penempatan kata-kata itu nggak jarang jadi buat kalimatnya ambigu. Sarannya, kamu coba nulisnya lebih ngasih sense perasaan. Kamu harus coba buat langsung nuangin apa yang ada di pikiran kamu sambil ngetiknya. Aku jamin ceritanya bakalan ngalir dan jauh dari kata boring.



Di dalam satu paragraf, mungkin efek nggak bisa move on dari bahasa chatting-an, aku juga nemu banyak kata “nggak” yang jadi ngerusak paragrafnya. Jadi gini, dari awal paragraf dia udah puitis dan baku banget, tapi tiba-tiba ada kata “nggak” yang jelas nggak baku. Nggak salah ada kata “nggak” yang salah situasi dan kondisi di sekeliling kata “nggak” itu. Ganti aja pake kata yang lain kayak; bukan, tidak, tak, dsb. Baru baca ulang, pasti feel puitisnya ngak ilang.

Aku ketemu juga ada masalah sama pemenggalan kalimat. Keenakan ngetik ini pastinya. Soalnya aku juga sering banget rasain itu. Kita sampai nggak sadar kalau satu kalimat itu panjang banget, tanpa ada tanda koma yang batasin. Contohnya kalimat ini, “Fio yang melihat Anjani menangis untuk pertama kali di hadapannya membuat perempuan itu tertawa geli dan sedih secara bersamaan saat dia menguraikan pelukan dan melihat air muka Anjani yang sembab dengan hidung memerah.” Aku yakin semua orang yang bacanya pasti tahan napas. Potong aja jadi dua kalimat, kalau enggak, kalau kamu merasa feel-nya​ nanti beda, sisipin tanda baca koma di tengah.

Masih soal keenakan ngetik aku juga nemu kalimatnya tiba-tiba berubah jadi POV 1. Padahal nggak ada diberitahu. Yang ini, “Bapak Husein adalah panggilanku karena sudah kuanggap sebagai ayah sendiri, dan Saga sebagai saudara kembar.” Itu kalimatnya si Revan pas pergi ke Puncak.
Masalah typo, EBI, dan teman-temannya, semua penulis nggak akan lepas dari momok ini. Sesuai ciri aku kalau lagi nge-review, aku nanti bakalan mampir lagi buat komen inline sekaligus ninggalin jejak di cerita kamu.

Soal nama tokohnya, Anjani Lentera. Aku terkejut pas tahu nama belakang Anjani itu Lentera. Aku tahu kamu pengen buat namanya anti-mainstream (read: unik) aku juga pengen banget nemu nama belakang tokoh yang unik di tokoh aku, oke sorry fokus. Aku suka sama kedua nama itu. Tapi aku jauh lebih suka kalau aja yang jadi nama fix tokohnya dipilih salah satu dari situ. Misalnya, jadi Anjani aja. Atau, Lentera aja. Awalnya aku pikir nama “Lentera” itu bagian dari clue. Cuma kembali simak dari awal kayaknya nggak ada hubungannya sama Lentera. Pindah ke Revan Natadiregar. Aku serius suka banget sama namanya! Walau awalnya salah fokus sama sesuatu hal, dan hmm biar aku tebak, kamu pasti pelesetin dari Siregar kan?! Alasan aku ngerasa yakin banget itu karena fyi, aku orang Batak asli hehe. Dan kalau itu emang beneran, kamu keren bisa ciptain nama itu! Oiya ketinggalan nama gurunya, Pak Evan. Aku saranin ganti aja deh. Kehadiran nama Pak Evan itu ada pas bagian Si Revan. Jadi berdekatan gitu. Dan takutnya yang baca malah salfok dan mengira kalau Revan sama Pak Evan ada hubungan. Kasihan Revannya kalau gitu haha. LOL.

Oiya ada satu hal lagi yang mau aku tanyain nih. Di part 2, bagian Revan chatting-an sama Anjani, chat terakhir itu tiba-tiba ada Angga. Itu typo kah? Atau emang mereka chatting-an di grup–mungkin, makanya ada si Angga?!

Kebetulan aku banyak nemuin kata “suara wanita monoton” itu aku rasa ambigu. Akan lebih baik kalau diganti jadi “suara monoton wanita itu” atau “wanita bersuara monoton” saran aja hehe.

Ketinggalan satu hal. Aku ada tips yang aku dapat pas baca tentang kepenulisan di wattpad. Di sana dibuat kalau kita jangan terlalu merendah banget sama pembaca, karena itu otomatis akan memengaruhi minat pembaca. Sekalipun kita jujur dan ngerasain itu sendiri. Aku nemu kamu merendah banget di author note. Kamu buat kalau tulisan kamu di chapter itu ngebosenin, scene nggak dapet, dsb. Mungkin kamu nggak merendah tapi jujur aja sama tulisan yang udah kamu buat. Tapi terkadang terlalu jangan terlalu jujur dengan itu. Percaya diri aja. Karena logikanya aja, kamu yang nulis bilang cerita kamu ngebosenin apalagi kami yang baca?! Ketahuilah mood pembaca malah makin nggak bagus dengan kehadiran kata-kata itu. So, believe in your self. Believe in your works. Tulisan kamu bagus, dan kamu harus jadi orang pertama yang percaya itu.

Gimanapun aku suka kok sama cerita kamu. Sekalipun aku tadi bahas kalau penempatan kata puitisnya itu ada yang kurang tepat, bukan berarti kan aku bilang semuanya?! Semangat nulisnya ya, nggak apa-apa kalau kamu mau revisi setelah tamat. Aku pikir itu ngak ada salahnya. Yang penting kamu ngak lupa buat tamatin cerita ini.

Sekian hasil review dari aku. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya untuk setiap kata-kata yang nggak mengenakkan. Semoga kamu bisa terima dan ngambil sisi positifnya aja. Btw, aku dukung Anjani-Revan. Walau kemungkinan besar lebih cocok sama Angga karena sama-sama A-A. Tapi aku lebih suka sama Revan yang tulus. Daripada Angga yang udah punya pacar tapi kayaknya nyimpan perasaan sama sahabat pacarnya sendiri. Kamu bisa ngerasain betapa sakitnya di posisi Fio kalau sampai itu benar. (baper mode on).

Itu aja. Tetap semangat nulisnya, Idon. Jangan lupa, Jendela Kata selalu terbuka untukmu hehe

Salam literasi!!!

Peluk cium,

euismalau

Chief Sosmed JK FB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s