(Wattpad Review) Wanderlust by Audrey


Travel-holic fall in love!

===

​Judul : Wanderlust

Penulis : Audrey

Wattpad id : snowrain_

Genre : Teen Fiction

Published : 13 Parts

Status : On Going

Visitors : 342 Reads. 197 Votes. (Tue, 04 Apr 2017)

Last Update : 18 Mar 2017, 07:29 AM

Rating : 5.0/10.0

Sudut Pandang : Orang Ketiga

Copyright : All Right Reserved

Review by : gustiamardalena

Link cerita review : Wanderlust




Jujur, ini pertama kalinya saya menulis review cerita untuk Jendela Kata. Sebelumnya, terima kasih buat Chief Owner Jendela Kata yang sudah kasih kesempatan saya me-review cerita ini. Kalau ada kekurangan dan kata-kata yang tidak berkenan, mohon maaf dan tolong diingatkan, ya. Jangan sungkan. Kalian juga bisa menambahkan dan membenahi jika review saya ada kesalahan. Saya hanya orang yang sedang belajar. Jadi mohon dimaklumi jika ada kelalaian di sana-sini.

Kesan pertama yang saya dapat ketika membuka cerita Wanderlust adalah simpel. Entah kenapa saya sudah bisa menebak kalau penulisnya tipe orang yang tidak mau berbelit-belit. Pertama, saya bisa lihat itu dari blurb yang penulis sajikan di sana. Keyakinan saya pun bertambah ketika saya mulai membuka part pertama di prolog yang hanya menampilkan satu quotes saja. Begitu saya beranjak ke part 2, saya lihat penulis sepertinya memang tidak ingin berlama-lama atau berlarut-larut menyampaikan jalan ceritanya. Di dunia wattpad, seringkali saya mendengar, terlalu banyak kata di dalam satu part, bisa membuat reader cepat bosan dan lelah. Ujung-ujungnya, bacaan tidak diselesaikan. Bagi para penganut semacam itu, tidak perlu khawatir, sebab penulis yang satu ini selalu membuat cerita yang singkat di tiap part-nya. Dijamin, tidak akan lelah apalagi sampai mengantuk karena panjangnya cerita di dalam satu part. Dalam hitungan kurang dari tiga menit, bacaan pasti sudah bisa beranjak ke part selanjutnya.

Oke, sebelum lebih lanjut, saya akan bahas arti dari judulnya lebih dulu, “wanderlust”. Sudah jelas bahwa wanderlust berarti nafsu berkelana, kesukaan mengembara atau kesukaan mengeluyur. Bisa kita sebut juga sebagai travel-holic.



Secara garis besar, cerita ini mengisahkan tentang Maya, seorang perempuan berusia 23 tahun yang suka atau hobi travelling, baik travelling di dalam negeri ataupun ke luar negeri. Ia bekerja di sebuah bank, bagian administrasi. Ia pun memiliki tiga orang teman dekat; dua orang perempuan dan satu orang laki-laki, namanya Julie, Sienna, dan Dion. Dion sendiri memiliki sebuah restoran, tempat yang dijadikan markas empat sekawan itu untuk saling bertemu dan berkumpul.

Saat saya membaca di part awal ini, saya mulai bertanya-tanya terkait genre yang penulis cantumkan. Di sana tertulis genre teen fiction, tapi seketika bayangan saya buyar karena cerita ini jauh dari kesan fiksi remaja yang biasanya mengangkat tema masa-masa sekolah. Jujur, saya sendiri masih kurang paham batas usia remaja dan dewasa itu berapa dan di mana letak perbedaannya untuk soal genre. Entahlah, ya. Mungkin saya masih harus banyak belajar untuk itu. Oke, saya tidak akan bahas ini panjang lebar. Tapi saran saya, lebih baik genrenya coba dipertimbangkan lagi, mengingat isi cerita di sini yang sepertinya sudah keluar dari fase remaja.



Kembali ke jalan cerita. Menurut saya, jalan cerita yang terlalu singkat kerap kali membuat saya mengerutkan kening. Banyak dialog tag yang kurang jelas, sebagai pembaca saya kesulitan membedakan mana yang bicara si A, si B atau sudut pandang si penulisnya, yang membuat saya harus berhenti dan mengulang bacaan saya. Saran saya, cerita boleh singkat, tapi kalau singkatnya kurang tepat, malah akan menyusahkan pembaca. Cerita yang tidak terlalu panjang akan sangat menyenangkan bagi para pembaca yang suka skimming. Jadi, kalau ingin mempertahankan sifat singkatnya cerita, yang saya anggap itu sebagai ciri khas penulisnya, lho, ya. Sebisa mungkin usahakan, cerita dibuat singkat tapi padat, agar tidak ada salah paham atau salah persepsi seperti yang saya alami.

Juga untuk perihal tanda baca yang kurang tepat. Typo dan cara penulisan yang masih belum benar. Mungkin karena penulis belum sempat merevisi tulisannya. Ya, dimaklumi memang, dalam dunia wattpad sudah menjadi hal lumrah, ketika tulisan yang sudah dipublish, belum sepenuhnya melalui tahap revisi atau pengendapan tulisan. Banyak para author yang merevisi tulisannya jika ceritanya sudah tamat. Saya anggap itu masih wajar. Tapi saran saya, coba deh, sebelum dipublish, usahakan ditinjau dulu, setidaknya bisa mengurangi kesalahan-kesalahan atau paling tidak, memberi ruang gerak pada tulisan yang sudah tertuang.

Lanjut, cerita ini juga dibubuhi oleh kisah romance. Rasanya memang akan kurang sedap jika jalan sebuah cerita tanpa bumbu yang satu ini. Setelah beberapa part saya baca, saya mulai ambil kesimpulan kalau cerita ini berkisar antara cinta segitiga dengan satu orang perempuan dan dua orang laki-laki yang juga mencintai satu perempuan yang sama. Klasik? Saya pikir juga begitu, tapi tunggu dulu, jangan dulu berpikir demikian, saya rasa dari sisi karakter si tokoh utama Maya yang tidak mencolok itu yang membuat saya agak bertanya-tanya, mencoba memahami karakternya Maya. Pendeskripsian tokoh kurang dipertegas di tokoh utama Maya. Entah, apakah memang seperti itu atau apakah penulis memang sengaja mengulur tentang karakternya agar bisa mempertahankan sisi kejutan di alur ceritanya? Tokoh utama di sini terdiri dari tiga orang, sebuah segitiga yang bernama, Maya, Dika, dan Joel.

Satu lagi, peribahasa “dunia tak selebar daun kelor” sepertinya tak berlaku di sini. Karena apa? Dunia mereka begitu sempit. Semua berputar-putar di situ saja, saling mengait dan terkesan dramatis. Bayangkan, Papa Maya yang mempunyai sebuah perusahaan, tapi Maya yang notebene anaknya sendiri tidak bekerja di sana, entah karena alasan apa sebab penulis tidak memberi penjelasan tentang itu. Menurut saya, jarang sekali menemukan seorang anak dari orang tua yang mempunyai perusahaan sendiri, tapi lebih memilih bekerja di luar. Sedang, Dika dikabarkan sebagai karyawan kepercayaan Papa Maya. Dan Joel, yang tiba-tiba harus mengurus perusahaan yang dipimpin Om Joel, di bank tempat Maya bekerja. Ya, mungkin di sinilah keunikan cerita ini.



Di beberapa part, saya menemukan ada beberapa percakapan yang terkesan tidak menyambung, “si A bicara apa, si B jawab apa”, seperti di percakapan antara Maya dengan Papanya melalui telepon di part 2 dan percakapan antara Papanya dengan Dika di part 3. Juga ada beberapa bagian yang agak janggal, salah satunya di part 4 seperti dalam percakapan Maya kepada temannya yang membicarakan Joel, diceritakan bahwa di hari itu kalau Maya baru pertama kalinya bertemu dengan sosok Joel, teman main kecil Maya yang sudah bertahun lamanya tidak berjumpa. Tapi tepat di hari itu juga, Maya curhat kepada Sienna dan mengirimkan foto Joel melalui Line. Seakrab itukah? Sedang, sampai Joel pulang pun, Maya masih belum ingat dengan sosok Joel. Atau, saya masih bisa maklumi jika posisinya tidak berada di dalam satu bab.

Dan yang sedikit janggal lagi bagi saya, ketika Maya beserta tiga orang temannya merencanakan untuk berlibur bersama ke luar kota. Memang, dijelaskan bahwa di bulan perencanaan mereka berlibur ada banyak tanggal merah, tapi bukankah sangat jarang sekali mendapati tanggal merah yang beruntun atau berturut-turut? Mengingat Maya yang bekerja di sebuah perusahaan orang lain, tentunya akan sangat terikat sekali dengan peraturan perusahaan yang tidak bisa sembarangan ambil cuti atau izin terus menerus. Kecuali, jika Maya bekerja di perusahaan Papanya sendiri, menurut saya itu jauh lebih logis.

Di part 9 dijelaskan bahwa Maya masih tetap bekerja di bank. Tapi di tiap weekend, ia juga akan bekerja di perusahaan Papanya. Saya tidak tahu kenapa alasan penulis menempatkan posisi bekerja Maya tetap di perusahaan orang lain. Andai saja Maya hanya bekerja di perusahaan orang tuanya sendiri, saya rasa akan lebih mudah mengembangkan ide utama dari travel-holic yang penulis ciptakan. Entahlah ya, apa yang direncanakan penulis. Hanya bisa menunggu sampai proses penulisannya diteruskan dan di-publish.

Di beberapa part yang saya tangkap juga ada beberapa adegan yang tidak ada kaitannya. Mungkin karena penulis baru publish 13 parts, ya. Makanya, masih banyak part atau adegan yang belum saling berkaitan, masih menggantung, kepentingannya masih belum kelihatan. Seorang perempuan yang “travel-holic” itu juga belum begitu kuat menonjol.

Tapi, cerita ini cukup berhasil membangunkan rasa penasaran saya. Penulisnya cukup pandai menyimpan dan menaruhnya di tempat yang pas. Penggunaan bahasa dalam dialog pun, cukup enak dibaca, kalimatnya mengalir, tidak terlalu berat. Kita pun diajak berjelajah mengenal dunia kerja yang dibawakan secara santai tapi bermakna, tetap disiplin sesuai dengan kaidahnya.

Dan, untuk urusan yang satu ini, “hati orang siapa yang tahu?” yang membangkitkan keingintahuan saya. Dika dengan karakternya yang easy going. Sedang Joel, laki-laki dengan ketampanannya dan senyumnya yang dapat membuat hati setiap wanita menghangat dan tersihir karenanya. Seakan menjadi idaman bagi setiap wanita. Tapi sayangnya, Maya yang cuek serta kurang peka. Karakter Maya yang saya tangkap sementara adalah Maya yang terkesan kurang tegas, tidak punya prinsip. Ketika Maya di hadapkan dengan Dika, ia seakan menerima dan membiarkan rasa itu muncul di dirinya. Begitu pun ketika Maya berhadapan dengan Joel. Ada satu adegan yang hampir membuat saya terbawa suasana. Saat Maya dan Joel sedang berdua di ruang bermain tepatnya di rumah Joel selesai merayakan ulang tahun adik perempuannya yang berusia 9 tahun. Saya pikir, Maya akan memberikan kesan penolakan saat Joel menunjukkan perasaannya lewat tindakan yang romantis kepadanya. Oke, saya tidak mau spoiler yah di bagian ini. Tapi siapa sangka kalau ternyata posisi mereka seakan seperti orang yang sudah saling kenal dekat setelah bertemu sedewasa ini. Di saat bersamaan pula, keponakan Dika juga berulang tahun. Sebelum hari-H ulang tahun, ada adegan dimana Maya dan Dika bertemu dengan tidak sengaja di toko mainan untuk membeli kado. Dika dan Maya akhirnya mencari kado bersama, saling memberi masukan. Yang saya tangkap sih, ada clue yang penulis selipkan di akhir adegan, sepertinya untuk mencerminkan gambaran tentang isi hati Dika terhadap perasaannya kepada Maya.



Secara keseluruhan, fast plot yang penulis buat, kadang merusak konsentrasi saya. Membuat saya berpikir, “Kapan kejadiannya? Kenapa tiba-tiba kayak gini?”. Saran saya terakhir, tingkatkan kejelasan dengan tetap pertahankan singkatnya cerita yang menjadi khas dari penulisnya.

Nah, kira-kira bagaimana kisah kehidupan mereka selanjutnya. Siapakah yang akan Maya pilih di antara mereka? Atau malah, tidak dengan kedua-duanya? Maybe yes, maybe no. Tidak ada yang tahu.

Jadi, cerita ini recommended deh buat kamu-kamu yang suka cerita singkat dengan bahasa yang ringan namun tetap berarti. Dijamin, nggak bakal bosan…!

So, buat penulisnya, Kak Audrey, jangan terlalu lama didiamkan begitu saja. Nanti keburu tua mereka bertiga, kelamaan menunggu, menanti si tangan penulis mengutak-atik jalan hidup mereka. Hehe.

Last, salam kenal, Kak Audrey. Terima kasih banyak yang sudah mempercayakan karyanya direview oleh Jendela Kata. Next time, jangan kapok direview oleh kami, ya.

Sekali lagi, saya mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan di hati dan kelalaian yang terjadi di mana-mana.

Semoga sukses selalu buat Kak Audrey. Tetap semangat…!


Best regards,


gustiamardalena
Chief DR Jendela Kata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s