(Wattpad Review) Dunia Cermin by Safiella Citra


Awalnya, kota ini sangat biasa.

Awanya, kota ini begitu biasa.

Bahkan, kota ini terlalu biasa.

Hingga kasus tak berujung mendatangi kota ini.

Siapa yang akan sadar kalau kota terpencil yang katanya dijuluki kota Gurindam ini mempunyai misteri?

Sekelompok remaja berusaha menyingkap apa yang sebenarnya terjadi di kota mereka.

===

Judul : Dunia Cermin

Penulis : Safiella Citra

Wattpad id :citracchi

Genre : Mystery/Thriller

Published : 22 Parts

Status : Completed

Visitors : 10,7k Reads, 702 Votes. (Thu, 12 Apr 2017)

Rating : 7.5/10.0

Sudut pandang : Orang pertama dan ketiga

Copyright : All Right Reserved

Read more : Dunia Cermin

Review by :@firala



Sebelumnya, terimakasih untuk chief owner yang memberi kesempatan untuk kembali me-review cerita. Mohon maaf apabila ada kekurangan atau kata-kata yang kurang berkenan pada ulasan kali ini.
Mari disimak, hope you enjoyed!

Dilihat dari judulnya, aku berpikir ini cerita fantasi gitu, dan ya… cerita ini ada unsur semi-fantasi, tapi kesan mystery/thriller sudah dapat dari tampilan cover. Judul ini juga mampu membuatku bertanya-tanya, “Seperti apa sih dunia cermin itu?”. Blurb-nya juga mampu menyulut penasaranku yang semakin menjadi-jadi.

Hal yang membuatku tertarik adalah ketika penulis menyajikan visualisasi tokoh-tokoh Dunia Cermin dalam bentuk real. Penulis tidak mengambil sosok artis dalam casting Dunia Cermin, melainkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan, penulis juga ikut berperan menjadi salah satu tokoh favoritku di sana.



Di bagian prolog, kita diajak menjajali kota Tanjungpinang yang terlihat seperti kota mati. Bahkan si tokoh–Ian–sendiri ‘hampir’ tidak menyadari jika ia masih berada di tempat asalnya. Setiap kata demi kata mampu memancing penasaran yang terus berkecamuk. Bahkan, banyak peristiwa-peristiwa ganjil yang dialami tokoh lain yang bikin greget sendiri saat membacanya. Aku agak nyesek begitu berada di akhir prolog. “Yah… ternyata cuma begini.” Itu yang terlintas begitu melahap habis isi prolog. Jujur, bagian terakhirnya sukses membuatku terkecoh.

Yang bikin aku merasa aneh, di bagian prolog kan memakai sudut pandangnya Ian, namun ada beberapa penuturan yang tidak memperkuat kalau Ian itu cowok yang kalem.
Contoh: “Tebakanku terbukti ketika ia mendongakkan kepalanya ke arahku-Tria Tachikawa yang manis!”

Ada lagi: “Gadis itu menoleh padaku dan dia-dia-dia adalah Alidya Mellisha-ku yang comel!”

Menurutku itu terkesan berlebihan, kesannya genit-genit gimana gitu, jadi menurutku ya kurang pas aja. Kecuali kalau penulis memakai sudut pandangnya Ryan yang notabene suka heboh sendiri dan cenderung lebih ekspresif.
Dunia cermin sendiri merupakan dimensi di mana kita berada di tempat yang sama dengan tempat yang disinggahi sebelum menembus cermin. Di dunia cermin, kita seperti melihat kekacauan, seperti bangunan yang runtuh, bercak darah di mana-mana, gambarannya seperti yang ada di prolog.

Cerita ini mengisahkan tentang sekelompok remaja yang baru saja mengenyam bangku SMA. Sebut saja mereka Ian dan kawan-kawan. Pada awal tahun ajaran, terdengar berita meninggalnya Ayah salah satu murid di sekolah Ian. Adanya keganjilan dalam meninggalnya korban membuat Ian dkk diselimuti penasaran yang terjadi berujung pada penyelidikan oleh mereka sendiri.

Aku tetarik dengan tokoh Ian yang memiliki jiwa pemimpin. Setiap keputusan yang diambil pasti disetujui tanpa ada bantahan, seakan-akan Ian sudah mendapat kepercayaan tersendiri di mata kawan-kawanya. Tokoh-tokoh lain pun juga terasa lebih hidup dengan karekter yang mereka miliki. Seperti Karin yang cerewet dan menyukai hal-hal yang berkaitan dengan popularitas. Ada juga Ryan yang suka heboh sendiri.

Ian bukanlah satu-satunya pemeran utama di Dunia Cermin. Tokoh lainnya juga ikut andil dari cerita ini. Yang paling sering terlibat ada dua orang, namanya Tria dan Alex.



Nah, ini dia tokoh favoritku, Tria! Dia ini tipikal cewek yang flat gitu, tanpa ekspresi. Kalau istilah wattpad-nya sih Tria ini cewek dingin. Anaknya sedikit cuek dan dia memiliki pemikiran yang kritis. Setiap ada kejanggalan yang ada pasti si Tria ini yang berpikiran lebih luas yang pastinya membantu sekali dalam penyelidikan. Kalau Alex itu anaknya penakut dan sensi-an kalau disinggung sama Tria. Aku dibuat senyum-senyum sendiri kalau ada adegan Tria-Alex yang suka bertengkar kaya Tom & Jerry. Lucu ih…. Kenapa sih mereka gak dibikin jadian aja (maafkan daku yang korban tinpik).

Lalu apa yang membuat meninggalnya korban menjadi janggal?

Awal mulanya polisi mengklaim jika korban meninggal dengan cara bunuh diri, padahal ada beberapa tusukan di beberapa bagian tubuh. Hipotesa Ian mengatakan jika ini murni pembunuhan. Kejanggalan makin bertambah mengingat si korban tidak pernah memiliki masalah dengan orang-orang luar.

Tidak adanya tanda kehadiran pelaku yang datang membuatku mengerutkan dahi. Bagaimana caranya si pelaku ini dapat membunuh korban? Lebih tepatnya, bagaimana si pelalu bisa masuk ke rumah korban? Apakah tidak ada saksi mata yang melihat pelaku masuk ke rumah korban?

Setelah membaca lebih jauh, aku jadi tahu kenapa polisi tidak dapat menuntaskan kasus ini. Mengetahui hal itu cukup membuatku tercengang. Walau sempat kecewa kalau identitas dan motif si pelaku ini tidak diperjelas oleh penulis.

Aku suka ide yang dipaparkan si penulis, gabungan antara misteri dan fantasi. Mungkin karena alurnya cepat dan hanya terdiri dari 13 bab, kesan-kesan misterinya yang lebih sedikit dan relatif sederhana. Tapi overall, aku suka penulis mengemas ide dan cara eksekusinya. Melihat di Author’s Note, cerita ini terinspirasi oleh kisah Sherlock Holmes, Persona 4, dan Vocaloid. Aku belum membaca semuanya sih, jadi aku tak bisa menilai hal apa saja yang ‘berhubungan’ dengan cerita-cerita di atas.

Jujur, aku lebih menikmati jika penulis menggunakan SP (read: sudut pandang) orang pertama. Penuturan yang digunakan lebih luwes menurutku. Oke, SP orang ketiga sebenarnya gak ada masalah sih. Cuma penulis kurang memainkan narasi pada saat di bab 6-9, jadi hanya dialog yang lebih mendominasi.

Ada plot-hole yang membuatku terganggu. Waktu Ian dkk hendak ke sekolah di hari minggu untuk menembus cermin yang ada di toilet. Bukannya sekolah selalu dikunci ya kalau pas hari minggu atau libur? Kenapa mereka bisa masuk begitu saja? Terus, saat seluruh badan Tria tertusuk serpihan es dia masih sempat membawa Karina yang pingsan. Yang namanya ketusuk benda tajam pasti sakit banget, menurutku agak aneh aja kalau Tria masih bisa nuntun Karina. Aku juga mengerutkan kening ketika Alex ikut menyerang monster, bukannya dia penakut ya? Kalau aku jadi Alex, aku pasti lebih milih diam di tempat seperti Karina dan Alidya.

Saat Alex berada di rumah sendiri, dia kan melihat ada bayangan hitam yang seukuran manusia, dan berhenti di situ aja. Kenapa gak dieksplor lebih jauh lagi? Sampai sekarang aku penasaran, “dia itu siapa sih?”. Aku sempat mikir kalau dia itu memang makhluk yang ada di dunia cermin. Mungkin saja sih adegan ini memperjelas betapa penakutnya si Alex, tapi ya tetap saja itu sedikit mengganggu kalau cuma berhenti di situ saja.

Selama membaca, aku menemukan kalimat yang kurang efektif. Misalnya saja kalimat yang terlalu banyak menggunakan kata sambung ‘-nya’. Ada juga kalimat tanpa penggalan koma.

Contoh lain: Dengan posisi di depan cermin ia mencoba memasukkan tangannya dan tangannya masuk perlahan-lahan.

Mungkin akan lebih enak dibaca jika kalimatnya begini: Dengan posisi di depan cermin, ia mencoba memasukkan tangannya hingga masuk perlahan-lahan.

Aku gak bisa ngasih contoh-contoh yang lain dan mengutarakannya di sini. Saranku, jika ada waktu luang, penulis bisa revisi buat mengecek hal-hal yang aku singgung tadi. Gak harus langsung revisi seluruh bab, kok. Cukup 1 bab dulu, lalu lanjut revisi bab selanjutnya di hari atau minggu berikutnya. Ya itu semua bertujuan supaya pembaca bisa lebih nyaman membaca.

Ada juga dialog yang menggunakan ‘~’ di bagian akhir. Menurutku ini keliru karena tidak sesuai dengan kaidah EBI. Mungkin bisa diganti pakai tanda elipsis. Misal: “Aduh, leganya …,” ujar Ian atau “Aduh, leganya ….”

Yap, cukup sekian ulasan dariku. Sekali lagi mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Tetap semangat menulis kak Citra! Kirimin salam juga dong buat Tria-Alex, aku shipper mereka /lah, salfok/


Salam,

firala

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s