(Wattpad Review) Love Live An Enemy Couple by Nurul Fatimah


Hellen, seorang gamers sekaligus penggila Jepang yang dunianya mendadak berubah sejak kedatangan Flash a.k.a Erza. Sesosok malaikat―yang katanya―penjaga benang takdir milik gadis itu.

Di sisi lain, kehidupannya sebagai Ren―seorang hode―membuatnya bertemu dengan Nathalie. Seorang cowok yang sebenarnya adalah Nathan. Tetangga, cinta pertama, dan kini menjadi orang yang paling ia benci di dunia.

Namun, tanpa mereka sadari. Mereka terikat dalam benang merah yang sama. Belum lagi hubungan dengan teman-teman lelakinya yang ternyata ikut terikat dalam benang merah milik gadis itu.

Apakah Flash mampu menyatukan mereka berdua? Di sisi … ia lupa membentengi perasaannya sendiri.

===

Judul : Love Life an Enemy Couple (END)

Penulis : Nurul Fatimah

Wattpad Id : Sky-Nari

Genre : Fantasy

Published : 55 Parts

Status : Complete

Hit Rank : #128 on Fantasy

Visitors : 8.83k Reads. 1.07k Votes. (Wed, 12 Apr 2017)

Rating : 7.9/10.0

Sudut Pandang : Orang Ketiga

Copyright : All Right Reserved

Read more : Love Life an Enemy Couple

Review by : ndyaachitra




Sekarang pukul 21:52. Harusnya sih sekarang lanjutin nulis cerita sendiri, tapi aku nggak bisa fokus karena masih ada banyak hutang review, salah satunya yang satu ini. Ya, setelah beberapa hari berusaha merampungkan 55 part nya, akhirnya khatam juga. Yeay! #ikutanhellen.

Seneng dong pastinya! Akhirnya gue tamatin juga nih si Hellen. Wkwk.

Awal lihat covernya, aku yakin banget nih novel pasti latarnya Jepang deh. Namun keyakinanku seketika terpatahkan karena ternyata nih novel Indo banget, lengkap dengan haru-biru peremajaan khususnya remaja pecinta Jepang. Seenggaknya tebakan aku nggak melenceng terlalu jauh, kan? Masih ada Jepang-Jepangan juga. Hehe.



Oke, kita kupas satu-satu ya. Berhubung kalo malem otak udah setengah mode sleep, harap dimaklumi kalo bahasanya agak nggak nyambung. 

Pertama aku ingin menanggapi tentang Author’s note di salah satu part, entah itu part keberapa. Nari bilang, salah satu temannya bilang Love Life an Enemy Couple antimainstream. Yap, jujur, aku setuju dengan pendapat teman kamu, Nari. Ibarat manusia, nggak ada yang sepenuhnya sama, begitu juga cerita ini. Cerita ini unik, mengupas benar-benar tuntas tentang kehidupan remaja pecinta Jepang. Aku udah duga bahwa bakal nemu begitu banyak quotes di cerita ini, dan benar, selama nulis review untuk JK, novel ini adalah cerita yang paling banyak aku buat gambar quotes-nya. Hehe. Mungkin saking banyaknya Nari menyelipkan kata-kata cantik di setiap part-nya. So good! Quotes-quotes di cerita ini tak jarang bikin aku mikir dan senyum-senyum sendiri.




Berlanjut ke cover, dari sinilah aku mengira bakal disuguhkan cerita khas drama Jepang. Nuansa anime Jepang yang terlalu kental dari cover Love Life an Enemy Couple ini menutupi bahwa sebenarnya cerita ini latarnya bukan Jepang. Degradasi warna pink dan biru muda yang dominan, serta kurangnya bold pada font deskripsi judul dan nama penulis, mengaburkan kesan eye-catching yang harusnya tercipta.

Untuk cover, akan lebih tampak bagus jika deskripsi judul dan nama penulis diubah warna huruf atau ketebalan font-nya agar terlihat lebih jelas. Menurut taste-ku, sebaiknya tak perlu ada pohon sakura di cover. Sakura identik dengan Jepang. Memang sih, ceritanya tak jauh-jauh dari segala hal berbau Jepang, tapi kan latarnya tetap di Indonesia. Hal ini untuk tetap menarik perhatian pembaca yang mungkin kurang akrab dengan dunia per-Jepangan. Sayang banget kan, cerita sebagus ini nggak jadi di klik sama pembaca cuma karena pembacanya salah paham. Karena pasti deh ada pembaca yang pilih-pilih soal latar cerita yang mau dia baca.



Dari cover kita melesak ke PROLOG. Aku benar-benar penasaran setelah baca prolog. Serius deh! Tebakan-tebakan pun mulai bermunculan di pikiran. Adegan berdarah-darah, sosok malaikat penjaga seperti Erza, kemarahan Nathan, karakter Hellen. Komplit! Aku salut sama penulis yang tahu banget nempatin adegan yang pantas di prolog. Karena masih banyak penulis wattpad yang nggak manfaatin prolog dengan benar.

Kadang aku juga kesal kalo ada pembaca yang bilang prolog kepanjangan. Hello? Mungkin mereka yang berkomentar demikian lupa bahwa prolog juga adalah bagian bab cerita.

Pada part-part awal, aku lupa, mungkin sekitar dua-tiga part, aku kurang nyaman membaca karena terlalu banyak dialog sedang narasi kurang. Feel cerita jadi kurang terasa. Tapi semakin bergerak ke belakang, penyajian keduanya makin pas.

Bahasa yang penulis gunakan menyenangkan, easy going. Karena mungkin cerita ini sudah revisi, aku menemukan laju yang pas. Tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Penulis tahu di mana harus menggantung, menyuapi sedikit dan menjejalkan sekaligus. Porsinya pas. Pendalaman materinya tentang dunia Jepang nggak usah ditanya deh. Kayaknya penulis emang jagonya di sana. Wkwk.
l



Aku suka writing-style nya Nari. Untuk adegan-adegan menegangkan, feel-nya benar-benar oke. Untuk kata-kata menyentuh, udah jempolan. Satu yang aku sayangkan adalah untuk part-part sedih. Karena review ini taste aku, jujur aku belum mencapai level sedih ketika berhadapan dengan part-part di mana Hellen menangis.

Aku akan kasih beberapa alasan mengapa aku nggak ikut terhanyut ketika Hellen nangis.

Di part-part awal, aku nggak bisa ikut sedih kayak Hellen karena aku nggak tahu apa sebenarnya alasan dia dan Nathan bertikai hebat. Penulis masih merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua tokoh ini. Aku justru lebih menghayati ketika part Nathan. Entah kenapa narasi dia lebih hidup daripada saat part Hellen. Alasan dia merasa bersalah tak terlalu abu-abu.

Padahal yang nangis Hellen, tapi aku kasihannya ama Nathan. Wkwk.

Di part-part tengah, di mana Nathan dan Erza akhirnya mengaku bahwa mereka bertukar tubuh dan Hellen bertengkar hebat dengan Nathan, harusnya ini jadi kejadian yang feel nya benar-benar bikin banjir air mata karena Hellen lagi-lagi nangis (dan tidur tentunya). Sayangnya enggak. Lagi-lagi aku nggak simpati waktu Hellen nangis dan justru lebih kasihan sama si Nathan.

Dan di part-part akhir pun begitu, Hellen yang menangis kurang mengundang simpati.



Oke, kita kesampingkan hal itu dan beralih ke yang lain. Kali ini tentang penokohan. Aku yakin penulis sangat memerhatikan tokoh-tokohnya, terbukti dengan banyaknya multimedia yang memvisualisasikan tokoh-tokohnya. Tokoh utama dalam Love Life Enemy Couple adalah sosok Hellen Prismananda, gadis pecinta Jepang yang dengan ajaibnya didatangi oleh seorang malaikat penjaga demi membuatnya kembali bersatu dengan pasangan takdirnya.

Tokoh Hellen ini membuatku berpikir berulang-ulang tentangnya, berusaha memahaminya sebaik apa yang penulis jabarkan lewat narasi. Dia gadis yang tak mudah tertebak, ceria, keras kepala, tapi suka menutupi perasaan, pemimpi, disukai semua orang.

Sifat pemeran utama banget kan ya? hehe.

Di salah satu part juga dikatakan bahwa Hellen memiliki pemikiran dewasa tapi tingkah yang kekanakan.

Masih banyak lagi segudang penjabaran tentang seorang Hellen.



Yang aku sayangkan adalah, penokohan seorang Hellen terlalu banyak digambarkan penulis lewat narasi. Penulis tak memberikan celah pembaca untuk menilai sendiri seperti apa sosok Hellen. Setiap orang tak mungkin sama menilai satu orang, tapi tak ada gambaran other thinking itu tentang Hellen. Seolah dunia hanya berputar di sekitar gadis itu.

Terlalu banyak hal baik yang Hellen dapatkan, segala hal yang dia lakukan juga selalu berjalan sesuai kehendaknya (tak termasuk urusan cinta). Contohnya saat event di mana Hellen mengikuti beberapa lomba, dan di sana dia mendapatkan hampir semua apa yang dia impikan.

Ah, Hellen terlalu sempurna kupikir.

Tokoh yang kebangetan sempurna bikin gerah.

Tapi tokoh yang menderita mulu kayak sinetron juga bikin pengen gigit.

Wkwk. Apa sih maunya aku?



Ada di beberapa bagian di mana deskripsi karakter seorang Hellen tak cocok dengan sikapnya dalam menghadapi sebuah persoalan. Yang paling menonjol adalah cara Hellen memperlakukan Nathan. Apakah seorang yang katanya memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari teman seusianya akan bersikap kekanakan begitu setiap kali Nathan menemuinya? Berusaha menghindar dan pura-pura tak melihat? Menurutku ini nggak cocok dengan cetak tebal karakter dia.

Pernah juga, Hellen berubah emosi, di narasi penulis mengatakan bahwa mood gadis itu seketika berubah. Menurutku ini agak janggal. Apalagi ditambah deskripsi bahwa Hellen memang mudah berganti mood. Kenapa mood? Perubahan perasaan atau emosi seseorang terjadi bukan hanya berdasarkan mood, tetapi juga karena dihadapkan dengan berbagai situasi. 



Orang yang nggak mood-mood-an juga pasti akan kesal seperti Hellen jika dihadapkan dengan situasi serupa. (Ini terjadi di part ketika Nathan dan Hellen bertengkar. Aku lupa tepatnya part berapa).

Karakter Nathan dan Erza tak terlalu dibahas di sini. Padahal sudut pandang penulis memungkinkan untuk mengeksplor lebih banyak.

Tentang penokohan, aku agak terganggu ketika penulis menjelaskan sosok Hira terlalu banyak. Padahal kan Hira bukan siapa-siapa. Dia hanya muncul di satu-dua scene. Menurutku ini mubazir. Istilahnya seperti : scene yang apabila dihilangkan tak akan berpengaruh apa-apa terhadap cerita.

Bicara tentang mubazir, aku jadi inget Dio. Kasian banget dia cuma muncul di dua scene. Aku sempet mikir gini : “Nggak usah ada Dio aja udah cukup. Kehadiran Dio tuh bikin alurnya menyebar sesaat.”

Menurutku, kehadiran Dio ini sebenarnya cukup bisa digantikan dengan Rendy. Tujuannya bikin Nathan jealous, kan? Sayang, kehadiran Rendy justru nggak banyak dimanfaatin.

Dan Dio menurutku karakter yang juga mubazir.



Aku nggak akan bahas tentang teknik penulisan di sini. Cuma berhubung aku lihat, nggak salah kan kasih note buat penulis. Hehe. Aku nemuin banyak bagian yang misal seperti ini : Yang bicara Hellen, tapi dialognya satu paragraf sama adegannya Erza. Nggak salah sih yang kayak gini, tapi kebanyakan pembaca wattpad itu baca dengan cara baca cepat, jadi akan lebih nyaman kalo adegan dan dialog orang yang berbeda di enter, agar pembaca nggak salah tafsir tentang siapa yang sebenarnya ngomong dialog itu.


Aku juga sempat salah tafsir di bagian ketika Hellen melihat kecelakaan saat sedang makan es krim. Narasi awalnya yang membuatku sempat berpikir heran. Ini aku tandain kok. Coba deh dibaca, agak ambigu pesannya.



Tentang plothole. Aku nemuin beberapa kejanggalan. Yang pertama mengenai kesimpulan cerita di prolog dan apa yang tersaji di cerita. Di Prolog aku nangkepnya Nathan begitu benci sama Hellen dan Hellen berusaha minta maaf sama Nathan, agak aneh aja ketika cerita dimulai tiba-tiba keadaan berbalik 180 derajat. Nathan yang justru ngejar-ngejar Hellen, dan Hellen yang justru menghindar mati-matian.

Seolah nggak ada rasa bersalah yang tersisa dari diri Hellen.

Dan seolah pula, Nathan nggak pernah membenci Hellen.

Bukankah seharusnya Hellen minta maaf ketika seorang yang ia kira sepenuhnya membencinya tiba-tiba ingin memaafkan dan kembali padanya? Oke, mungkin untuk membina hubungan kembali memang sulit. Tapi ini agak ambigu.



Kedua, di bagian saat Nathan ke gunung dan memotret bintang. Di gunung dia bilang kalau dia motret bintang karena Hellen suka. Bukankah setelah itu harusnya dia nunjukin foto itu ke Hellen ya? Tapi selanjutnya dia justru ngirim foto itu (ngetag) ke akun Ren_57 padahal waktu itu dia belum tahu kalau Ren itu si Hellen.

I think penulis mungkin nggak bermaksud demikian. Tetapi hal ini membuat kesan seolah Nathan sudah tahu kalau Ren_57 adalah Hellen. Padahal kan sebenarnya belum. Setelah aku baca beberapa komentar di part itu, ternyata nggak cuma aku yang salah tafsir di sini.

Aku sangat menyayangkan karena penulis menyelesaikan konflik utama terlebih dahulu dan baru menyelesaikan sisanya kemudian. Hal ini membuat pembaca (khususnya aku. Hehe) kurang greget membaca part setelah konflik utama selesai. Di part 37 kalo nggak salah, Nathan dan Hellen sudah kembali bersatu. Tapi aku heran, kok masih banyak aja nih part nya, masih panjang, padahal kan masalah utama dah kelar.

Saranku, agar pembaca nggak lari, ada baiknya kita selesaikan remeh-temeh kecil dulu baru terakhir selesaikan yang utama. Di sini kan yang utama dari awal tentang Nathan-Hellen, simpan untuk di akhir, di klimaks. Misalkan kepulangan Erza dan bersatunya Nathan-Hellen ditempatkan di satu part, setelahnya baru epilog.



Penundaan klimaks sampai akhir dimaksudkan agar setelah membaca, pembaca merasakan puncak feel yang maksimal.

Terakhir, tentang pemilik benang terakhir : Ari. Aku sempet heran lho, tentang Ari dan Hellen yang dulu sahabatan pas kecil pernah dibahas sebelum part akhir nggak sih?

Setahuku enggak. Maaf kalo salah.

Kalo emang enggak, kemunculan Ari yang tiba-tiba jadi sahabat kecil Hellen tuh seolah-olah kayak ditambahin tanpa rencana sebelumnya. Hmmm… Jadi terasa janggal gitu.

Terakhir yang beneran terakhir, hehe. Remeh sih. Masih dalam satu part, entah itu part keberapa, ditulis bahwa nama Carrisa yang muncul di layar ponsel Hellen adalah Lily, tapi kemudian, ketika Carrisa menelepon Hellen lagi, penulis menuliskan yang muncul di layar adalah nama Carrisa. Agak terkesan ambigu lagi. Nggak mungkin kan tiba-tiba Hellen ganti nama kontaknya?



Maybe, untuk visual karakter bisa diletakkan di awal cerita supaya sebelum membaca, pembaca memiliki bayangan karakter-karakternya seperti apa.

After all, kayaknya tulisan aku kepanjangan deh. Hehe.

Sebelum berakhirnya tulisan ini, aku akan jawab beberapa question :

Q : Part favorit?

A : Pas Erza minta Hellen bilang, “Gue benci lo.” Kemudian menghilang dengan menghapus memori orang-orang.

Q : Karakter favorit?

A : Nathan, maybe. Haha.

Q : Apa yang kamu pelajari dari novel ini?

A : Banyak. Novel ini padat makna. Yang utama tentang bagaimana menghargai perasaan orang lain, semangat menggapai mimpi dan jangan pandang gamers sebelah mata.

Q : Akankah kamu membaca karya lain penulis ini?

A : Hmm, maybe aku mau baca yang nggak Jepang-Jepangan ada nggak, thor? Hehe.

Q : Akankah kamu cepat move on dari cerita ini?

A : Harus. Karena bacaan lain telah menanti. Wkwk. Tapi masih kepikiran sih sekarang. Masih anget baru selesai baca soalnya.

Q : Pesan buat author Love Life an Enemy Couple?

A : Daebak, Nari! Aku suka bahasa kamu. Aku suka semangat nulis kamu. Aku suka baca author note kamu. Pokoknya semangat terus! Pantang menyerah! Semangat ngidolnya! Muda Cuma sekali. Ngidol deh sepuasnya sebelum bosen. (aku itu mah. Wkwk)


Karena mataku udah sepet dan udah lewat tengah malam juga, aku mau ucapin makasih buat Nari karena udah mempercayakan cerita ini untuk direview oleh JK. Mohon maaf jika dalam tulisan ini ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

Karena JK hanya berusaha mereview secara jujur dan transparan.

Jangan kapok direview sama kami yaa…

Regards,

ndyaachitra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s