(Wattpad Review) Total Eclips by Nagia Hasan

ONE MADNESS. ONE DESPONDENCY. ONE MISTAKE.

Seorang pemuda yang memiliki hasrat besar, yaitu menjadi seorang penyair. Dia berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Dia menjumpai seorang gadis yang benar-benar membuatnya frustrasi. Setelah menetap di kota metropolitan, dia mengubah kehidupannya menjadi kacau. Jiwanya rusak. Segalanya semrawut.

“Man who can not lived by alone”


Judul : Total Eclipse

Penulis : Nagia Hasan

Wattpad Id : @-exoticvoid

Genre : Teen Fiction

Cover by : –

Hit Rank : –

Now Rank : –

Published : 40 parts

Status : Complete

Visitors : Read 2.3k; Vote 1.07k [Sabtu, 08 Juli 2017]

Rating (1-10) : 5.8

Tanggapan terhadap cerita ini : LUMAYAN

REVIEWER MEMBACA SAMPAI CHAPTER : 8 ditambah satu chapter pembuka dan sebuah puisi. Cerita ini ringan, sebenarnya. Hanya saja pengemasan dan beberapa deskripsi membuat kening saya berkerut, memaksa saya berhenti membaca sampai chapter 8.

Sudut Pandang yang Digunakan : Orang ketiga 

Copyright : Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang

Read more : http://my.w.tt/UiNb/tb0wEtbIBE

Review by : https://www.wattpad.com/user/kattelova

Buat kamu yang punya account wattpad jangan lupa kunjungi kami di http://wattpad.com/user/jkcommunity

(RINGKASAN CERITA VERSI REVIEWER)

Seorang laki-laki bernama Hardin dengan sifat khasnya yang temperamental dan tidak suka hidupnya diusik. Dia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penyair dan membuat ceritanya dicintai masyarakat. Dia terbiasa berkelana untuk mencari inspirasi bagi tulisannya. Sampai akhirnya dia sampai di Jakarta dan bertemu dengan Shania, seorang gadis yang selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Hardin.

Shania sendiri adalah gadis SMA yang secara kebetulan bersekolah di tempat Hardin pindah dan menjadi teman sebangkunya. Shania diceritakan sebagai gadis yang sudah begitu akrab dengan yang namanya kehilangan.

Kisah mereka berputar di tempat yang sama. Hardin yang terus melemparkan kesinisannya pada Shania. Sedangkan Shania sendiri, ingin bisa dekat dengan Hardin namun terhalang oleh sikap keras kepala laki-laki itu.


SEBELUM MEMBACA ISI REVIEW INI, JANGAN LUPA FOLLOW AKUN PENULIS REVIEW UNTUK MENDUKUNGNYA BERKARYA JUGA.

https://www.wattpad.com/user/kattelova


SUDAH?


OKE… BISA KITA MULAI…


===


COVER : Mungkin karena jumlah chapter yang terbaca masih sedikit, saya belum bisa menemukan benang penghubung antara cover dengan cerita.

Tapi untuk penialian dari segi covernya sendiri, saya rasa tidak ada masalah. Cover yang simpel dan cocok dengan genre cerita yang diangkat, teenfict.

CHAPTER PEMBUKA : Pertama membaca cerita ini, saya disuguhkan dengan adegan seorang gadis yang termenung, mengenang saat pesta ulang tahunnya yang ke-7. Di hari ulang tahunnya tersebut, dia harus dihadapkan kembali dengan kehilangan orang yang dia sayangi.

Menurut saya pribadi, penulis cukup pintar dengan menunjukkan sisi ‘lemah’ dari karakter utama untuk membuka cerita. Tentu saja tujuannya untuk menarik simpati pembaca, memaksa mereka terus membaca.

Ditambah kalimat pembukanya memakai susunan kata yang cukup menyeret saya terhanyut dalam cerita. Satu poin tambah untuk Total Eclipse ini.

Hanya saja, saya menemukan beberapa eksekusi yang kurang mulus, membuat saya mengernyitkan dahi heran. Pertanyaan “Kenapa” dan pernyataan “kan ini gini” berputar-putar di kepala saya saat membacanya, sehingga sedikit menurunkan minat saya untuk meneruskan membaca.

EBI : Untuk poin ini, saya tidak bisa banyak berkomentar. Kenapa? Karena penulis sudah paham tentang penggunaan teknik-teknik dasar yang memang wajib dikuasai mereka yang ingin disebut penulis, seperti penulisan tanda baca dan huruf kapital. Mungkin saya sarankan untuk lebih memerhatikan penulisan dialog. Lebih jeli membedakan mana yang dialog diiringi dialog tag dan bukan.

GAYA BAHASA : Awal membaca, saya berekspektasi tinggi pada cerita ini. Seperti yang sudah saya singgung di poin sebelumnya, kalimat pembuka yang sukses membuat saya terhanyut. Saya menaksir penulis akan menyajikan gaya bahasa yang ringan dan lincah, yang menjadi khas teenfict.

Namun, semakin saya membaca, semakin jauh pula saya harus meninggalkan ekspektasi awal. Ada beberapa alasan yang mendasari.

Pertama, pengambilan poin tiap paragraf. Kita semua tahu, dalam satu paragraf seharusnya hanya memuat satu poin utama. Namun, di sini, saya menemukan beberapa poin penting dijadikan dalam satu alenia.

Salah satu yang masih saya ingat yaitu satu paragraf mendeskripsikan tentang: Shania mengenang masa lalunya, ayah Shania meninggal tepat di hari ulang tahun Shania yang ke-7, dan bagaimana ayah Shania bisa ditemukan meninggal. Tiga poin yang memang saling berhubungan. Tapi, bisakah saya menuliskan semuanya dalam satu alenia? Tidak. Karena ketiga poin di atas sudah sangat jelas berbeda.

Kedua dan cukup sukses mengganggu konsentrasi saya membaca. Biar saya tunjukkan satu potongan dari ceritanya.

Jihan membukanya dan diikuti olehnya dari belakang.

Atau coba satu lagi.

Gadis tersebut frustrasi terhadap sikap yang ditunjukkannya pada keluarganya.

Merasa ada yang janggal? Ya. Saya tahu penulis mengambil sudut pandang orang ketiga yang tentu saja salah satu pronomina yang dipakai adalah -nya. Tapi bukan berarti sah-sah saja digunakan di sana-sini, bukan? Masih ada aturannya.

Saran saya, pergunakanlah nama atau ciri khas dari tokoh yang kamu miliki. Misal saja begini, Jihan membukanya dan diikuti oleh Shania dari belakang. Lebih mudah dimengerti, bukan?

Tidak masalah sering menyebut tokoh dalam narasi kita, khawatir cerita akan terkesan monoton?

Saya ambil contoh Ilana Tan di karyanya In a Blue Moon. Dia sering menyebutkan nama Shopie dan Lucas, namun tidak mengganggu narasi cerita. Jadi, lebih baik sering-sering memakai nama tokoh dan bukan pronomina daripada membuat pembaca gagal fokus, bukan?

Ketiga dan terakhir. Jalinan antarkalimat maupun intrakalimat. Saya ambil satu potongan cerita lagi.

Meskipun matanya terpaku pada buku anime, ada pemuda lain dari arah belakang sampai akhirnya mengaung layaknya harimau.

Saya membaca satu kalimat itu berkali-kali, jujur saja. Sampai akhirnya saya paham. Shania membaca buku, sedangkan dari arah belakang ada pemuda yang mengejutkannya dengan suara auman, seperti harimau.

Boleh saja membuatnya dalam satu kalimat. Hanya saja, bagaimana cara mengakali agar tidak meninggalkan kesan membingungkan dari sana. Itu yang perlu dipertimbangkan.

PENGGAMBARAN LATAR : Untuk latar waktu dan suasana saya tidak memiliki banyak masalah, saya dengan tepat bisa langsung menangkapnya. Namun, latar tempat yang sedikit-banyak mengganggu saya.

Salah satu contoh saat Shania sudah dijemput ibunya dan baru saja tiba di rumah. Lantas, Shania mengingat dia meninggalkan buku diarinya di sekolah. Tanpa menjelaskan kapan Shania meninggalkan rumahnya, tiba-tiba saja dia sudah sampai di ladang dan bertemu Hardin.

Saya menyayangkan transisi yang kurang mulus di sini. Bahkan saya sempat berguman, “Loh, kok di sini? Padahal tadi masih di rumah.”

Jadi, lebih perhatikan detail untuk perpindahan tempat. Karena detail sekecil apa pun tetaplah penting.

KARAKTER TOKOH : Saya tidak mendapatkan masalah dengan tokoh utama. Hardin dengan keras kepala dan temperamentalnya, serta Shania dengan sifat pendiam dan taat aturannya.

Tapi, saya terganggu dengan tokoh yang hanya mampir sebentar, lantas hilang entah ke mana. Saya tahu mereka hanya tokoh pembantu. Tapi, bukankah tokoh pembantu memiliki tujuan untuk menghidupkan cerita?

Apa yang harus saya katakan untuk tokoh yang muncul tanpa diundang dan hilang begitu saja? Saya ambil contoh Bruno.

Dia diceritakan sebagai laki-laki yang sering mengganggu Shania. Namun, dia hanya muncul satu kali lantas tidak pernah muncul lagi. Kalau memang karakter Bruno di sini senang mengganggu Shania, bukankah seharusnya dia lebih sering dimunculkan? Selain untuk memberi alasan penciptaan karakter Bruno juga untuk lebih menunjukkan seberapa seringnya Shania menjadi bahan ledekan temannya.

Tapi saya tidak bisa mengatakan karakter Bruno ini kurang kuat karena saya belum membaca keseluruhan ceritanya. Mungkin saja di chapter yang belum saya baca, Bruno memiliki andil lagi.

Kesimpulannya, muncul dan hilangnya tokoh harus dengan alasan yang jelas. Bukan hanya lewat begitu saja.

ALUR, PLOT, KONFLIK : Tidak banyak masalah yang saya dapat. Hanya saja, alur ceritanya agak lambat dan berputar di tempat yang sama. Mungkin bisa sedikit dipercepat agar pembaca tidak jenuh membacanya.

Dan saya juga mengacungkan jempol untuk penulis karena menyelipkan pesan moral di sini. Dari perbincangan Shania dan Jihan, penulis menyampaikan tentang seberapa bobrok dan sembrononya pergaulan kaum muda dewasa ini. Satu lagi poin tambahan di cerita ini.

LOGIKA CERITA (PLOT HOLE) : Apa yang seharusnya dilakukan anak 7 tahun saat melihat ibunya jatuh pingsan? Menghampirinya. Ya, tepat. Tapi di sini, kenapa Shania malah meninggalkan ibunya begitu saja? Padahal hubungan keduanya baik-baik saja.

Hardin diceritakan orang yang tidak suka diusik. Tapi, kenapa dia selalu mendatangi Shania dan menganggap gadis itu yang mengganggunya? Kalau memang Hardin sangat tidak menyukai gangguan, kenapa dia tidak diam saja di rumahnya dan bukannya keluyuran ke tempat Shania?

Di sini belum ada tanda-tanda apa pun yang menunjukkan Hardin mulai menaruh simpati lebih pada Shania. Jadi, saya tidak menemukan alasan yang tepat untuk sifat plin-plannya itu.

KRITIK DAN SARAN : Kritik sudah saya bahas habis di atas dan untuk saran, perbanyak bermain deskripsi. Menulis deskripsi acak sedikit-banyak akan membantu kamu untuk lebih peka terhadap rangkaian kata.

KESAN SETELAH MEMBACA : Seperti yang saya singgung sebelumnya. Saya sempat terbawa saat membaca kalimat awal. Padahal kalimat tersebut sangat sederhana.

Terdengar jarum jam dinding di malam hari.

Ya, hanya seperti itu memang, tapi entah kenapa saya suka.


===

Q&A



CHAPTER PALING MENGESANKAN? Chapter pembuka. Haruskah saya menyebutkan alasannya lagi?

TOKOH TERFAVORIT ? Hardin. Saya suka dengan semangatnya untuk menghasilkan karya, seperti menyentil saya.

SATU KATA UNTUK KARYA INI? Revisi!

SATU KATA UNTUK PENULISNYA? Semangat!

YANG PALING MEMBEKAS DI HATI SETELAH MEMBACA? Yang ketiga kalinya. Saya suka pembukaan cerita ini. Sederhana memang, tapi memberi kesan tersendiri untuk saya.

PESAN TERAKHIR REVIEW SINGKAT INI? Jangan patah semangat. Ayo terus belajar, menulis, dan jangan lupa revisi. Di sini kita sama-sama belajar.

Maaf kalau ada kata-kata saya yang menyakiti. Ambil perlunya dan mohon buang jauh-jauh kalau ada kurang pas. Saya pun menerima teguran kalau kata-kata saya kurang pas.

Terakhir. Tidak ada sebuah karya yang benar-benar sempurna. Karya Bapak Sastra kita, Pramoedya Ananta Toer saja masih sering mendapatkan kritikan, apalagi kita yang bahkan untuk disandingkan dengan beliau saja hanya sekecil debu. Jadi, jangan kapok untuk terus belajar dan menambah wawasan kita.

Salam kenal dari saya dan terima kasih sudah mempersilakan saya mereview karya kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s