(Wattpad Review) I’mmortal Series : Reminiscentiam

“Halo. Perkenalkan, aku Maut.”

Dia terbangun dengan ingatan kosong, disambut oleh seseorang oleh seseorang yang mengaku sebagai Maut dan memuntahkan cerita tentang sebuah klan immortal yang mengatur manusia dari balik sejarah. Kabar baiknya, kini dia menjadi bagian dari mereka. Kabar buruknya, sementara dia berusaha menerima kehidupan barunya, ingatan lamanya mengetuk, memberi tahunya bahwa ada seseorang yang sangat penting ikut terlupa.


Judul : I’mmortal Series : Reminiscentiam

Penulis : Bong

Wattpad Id : PhiliaFate

Genre : Fantasy

Cover by : Karanada

Hit Rank : #77 in Fantasy

Now Rank : #109 in Fantasy

Published : 23 parts + prolog

Status : On Going

Visitors : 14,7K Reads. 3,12K Votes (Senin, 4 Juli 2017)

Rating (1-10) : 8,5

Tanggapan terhadap cerita ini : SUKA

REVIEWER MEMBACA SAMPAI CHAPTER : 23 ALASANNYA karena penasaran dengan alur ceritanya

Sudut Pandang yang Digunakan : Orang Pertama dan Ketiga

Copyright : All Right Reserved

Read more : http://my.w.tt/UiNb/EKHs9xFtrE

Review by : firala_

Kunjungi juga kami di http://wattpad.com/user/jkcommunity

(RINGKASAN CERITA VERSI REVIEWER.)

Setelah terbangun, Illa kehilangan ingatan. Illa pikir dirinya telah mati seusai bertemu dengan seseorang benama Maut. Ternyata tidak, dia hanya tak lagi menjadi manusia, bertransformasi menjadi makhluk immortal berkebangsaan Noxis, dan gelar Sang Pemusnah tersemat padanya. Dia mengemban tugas menghancurkan semua Anomali yang mengganggu keseimbangan dunia. Di saat ingatannya mulai kembali, mencuatlah nama Eibie, sesosok Anomali terkuat yang menjadi alasan mengapa si tokoh tak lagi berwujud mortal. Dalam perjalanannya mencari  Eibie, terlintas suara samar seorang  wanita. Illa begitu familiar, namun ia tak dapat menggali informasi si pemilik suara. Bagaimanapun juga lelaki itu harus menyelesaikan misinya dan mendapatkan ingatannya kembali.


SEBELUM MEMBACA ISI REVIEW INI, JANGAN LUPA FOLLOW AKUN PENULIS REVIEW UNTUK MENDUKUNGNYA BERKARYA JUGA.

 @firala_


SUDAH?


OKE… BISA KITA MULAI…

===


COVER : 

Covernya kece badai, sekece ceritanya. Memiliki visualisasi yang cocok dengan genre ceritanya, fantasi. Aku yakin, daya tarik yang dimiliki cover bisa menggaet pembaca yang hanya melihat sampul bukunya saja.


CHAPTER PEMBUKA : 

Prolognya berhasil bikin aku penasaran dengan kelanjutannya, apalagi waktu si Takuto (Maut) bilang kalau dia itu dinyatakan sebagai  Sang Pemusnah. Rasanya pengen lanjut baca ke bab selanjutnya. Dua jempol deh buat kak Bong!


EBI : 

Penulisannya rapi banget. Selama aku membaca tidak kutemukan adanya typo. Cuma aku menemukan ada satu kata yang enggak baku, di chapter awal (aku lupa ada di chapter berapa, hehehe) di bagian dialog pokoknya, di situ tertulis kata ‘nggak’ padahal menurut versi kbbi itu harusnya ‘enggak’ atau ‘tidak’.

Soal teknik kepenulisan juga udah bagus, namun masih ada beberapa yang keliru sedikit. Misalnya penggunaan kata ‘di’ yang kurang tepat di salah satu kalimat: Pandangannya berhenti di seorang ibu berusia tiga puluhan yang sedang bercerita. Sebaiknya diganti menjadi kepada yang lebih cocok digunakan untuk menandai tujuan orang. Ada juga kata ‘dibalik’ yang seharusnya dipisah menjadi ‘di balik’ untuk menyatakan keterangan tempat. Cuma itu saja sih, mungkin kak Bong gak sadar saking asiknya menulis (aku juga pernah mengalaminya, btw), sebab aku tak lagi menemukan kesalahan serupa yang kembali terulang.


GAYA BAHASA : 

Penyampaiannya deskriptif, tidak bertele-tele. Lebih dominan show-nya daripada tell. Dan sejujurnya aku lebih menikmati yang memakai sudut pandang orang pertama, alasannya lebih luwes aja, di situ pula banyak penggunaan majasnya daripada yang memakai sudut pandang orang ketiga. Ya, ini soal selera aja sih.


PENGGAMBARAN LATAR : 

Penggambaran latar tempatnya sudah oke. Narasinya sudah cukup menjelaskan keberadaan New York dan beberapa kota kecil/? (kalau salah tolong koreksi, ya) di Inggris. Penggambaran suasananya juga patut diacungi jempol. Rasanya nano-nano kalau baca cerita ini. Tegang, sedih, haru, senang, semua feel tersampaikan dengan baik, juga ngena di hati.


KARAKTER TOKOH : 

Aku menyayangkan banget gak bisa kenal lebih dekat dengan sosok Takuto. Mungkin karena adegan Takuto tidak sebanyak Illa dan Sang Guru, hmm. Tapi aku bisa menangkap pembawaan dia yang cool mungkin? Entahlah, aku ngerasa begitu soalnya. 

Ah, Illa, cowok ini bikin gemes sendiri karena salah tingkah. Kayanya ngebayangin cowok salting gini lucu juga, bikin mesam-mesem sendiri. Dia itu tipikal orang yang malu-malu kucing sama orang yang disukainya a.k.a Sang Guru. Dia juga khawatir banget kalau Gurunya tertimpa masalah. Illa juga gak bisa langsung menerima orang yang baru dikenalnya seperti Guru (waktu Illa berumur 10 tahun) dan Keluarga James Walker.

Sang Guru, ehm… Sosok wanita yang tangguh. Dia itu gak mau berbagi sesuatu atau istilah lainnya tertutup. Lebih memilih memendam rasa pedih sendirian dan gak mau membuat orang di sekitarnya cemas.


ALUR, PLOT, KONFLIK : 

Cerita ini memuat alur campuran, dan lebih condong ke alur regresif. Aku (awalnya) agak kecewa sih, tapi kisah yang dibangun di alur mundur gak bikin aku kapok baca. Ya…,  bisa dikatakan seru pakai banget. Banyak konflik bermunculan yang bikin greget. Dan sampai di chapter 23 kayanya belum ada klimaksnya ya. Hmm, jadi ga sabar nunggu puncaknya, hehehe.


LOGIKA CERITA (PLOT HOLE) : 

Berhubung ini genre fantasi, aku gak mempermasalahkan tentang logika cerita. Tapi, semua itu juga ada batasannya. Dan akan terasa aneh kalau hal-hal yang berbau sihir atau kekuatan dibuat berlebihan, seperti seseorang yang punya kekuatan yang tak pernah kalah dari awal bab sampai ending, bahkan dia bisa menangani lawan tanapa hambatan sedikitpun. Menurutku itu kurang realistik aja dan terlalu sempurna untuk seukuran tokoh. Syukurlah, di cerita ini tidak ditemukan hal yang kusinggung tadi. Bahkan Sang Guru pun yang kemampuannya tak diragukan juga pernah terdesak oleh musuh sampai kewalahan.

Namun di balik itu semua, ada satu hal yang menurutku rancu. Di narasi kan dijelaskan bahwa ruang menara astronominya berbentuk bulat atau lingkaran, ada pula keterangan bahwa di setiap sisinya terdapat bla bla bla. Nah, aku mau ungkit kata di setiap sisinya. Lingkaran itu kan gak punya sisi ya, lebih baik jika diganti dengan kata di setiap sudutnya. Menurutku itu lebih cocok.


KRITIK DAN SARAN :

Aku masih menemukan beberapa kalimat yang menggunakan prinsip tell, bukan show. Seperti penggambaran ruang penginapan Sang Guru dan Illa di chapter 23. Sebenarnya enggak salah sih, cuma menurutku penjabaran detail kamarnya terlalu berlebihan. Sebaiknya dibuat seperti: Illa membuka pintu kayu yang menampilkan interior kamar penginapan yang mewah. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat siapa yang duduk di kursi berbantal empuk, mengelilingi meja yang berlapis taplak merah marun. Jadi jika mau menambahkan deskripsi lain tentang interior kamar, aku sarankan untuk diselipkan pada adegan tokoh yang sedang beraksi. Contoh lain: Illa mencondongkan badannya, berpura-pura mengintip apa yang dibaca oleh Sang Guru. Sesekali bola matanya jelalatan ke arah tempat tidur ganda berkelambu biru muda, lalu ke arah lukisan bertema pesta, dan pilihan terakhir jatuh pada wajah Sang Guru yang begitu dekat. Biar pembaca lebih fokus pada adegan yang dapat menghantarnya ke alur cerita. Hanya saran saja.


KESAN SETELAH MEMBACA :

Cinta telah membuat kita nyaman dan tak ingin rasa kehilangan melingkupinya.


===

Q & A


CHAPTER PALING MENGESANKAN?

Banyak, tapi yang paling suka di chapter 22 alasannya karena Illa bisa bertemu lagi dengan gurunya, hehehe.


TOKOH TERFAVORIT ?

Sang Guru! (Lupa namanya :v)


SATU KATA UNTUK KARYA INI?

Keren!


SATU KATA UNTUK PENULISNYA?

Ganbatte!


YANG PALING MEMBEKAS DI HATI SETELAH MEMBACA?

Tingkah Sang Guru yang gak ingin membuat Illa khawatir. Bikin trenyuh :”)


PESAN TERAKHIR REVIEW SINGKAT INI?

Sebelumnya aku mau mengucapkan terimakasih untuk Chief Owner JK yang sudah memberi kesempatan untuk mengapresiasi cerita ini. Untuk Kak Bong, salam kenal ya, hehehe. Oiya kak, maaf hanya meninggalkan jejak sampai chapter 7, sisanya aku baca offline, wkwk. Cerita Kak Bong benar-benar keren, feel-nya juga dapet. Jadi kak Bong gak usah merendah diri ya. Aku lihat di author note, kakak takut kalau feel-nya gak sampai ke pembaca, namun menurutku Kakak sudah berhasil, lho! Tetap percaya diri ya, Kak. Semangat terus Kak buat lanjutin ceritanya dan sukses selalu buat Kak Bong. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s