(Wattpad Review) Rangkaian Bunga Mawar by Natasyah Aprilia Alkiah

Aku bingung, kenapa setiap pagi selalu ada Rangkaian Bunga Mawar. Berada di depan pintu rumah ku.

Setiap hari warna Bunga Mawar itu slalu berbeda-beda. Aku, heran siapa yang selalu memberikan ku bunga mawar ini?.

Karna sungguh aku sungguh menyukai Bunga. Khususnya Bunga Mawar karna menurutku Bunga Mawar adalah pelerwakilan kata cinta.

Tapi, ku sungguh bingung? Siapa yang memberikanku Bunga Mawar ini.


Judul : Rangkaian Bunga Mawar

Penulis : Natasyah Aprilia Alkiah

Wattpad Id : natas624

Genre : Teen Fiction

Cover by : –

Hit Rank : –

Now Rank : –

Published : 14 Parts

Status  (Ongoing/Complete/On Hold) : Ongoing

Visitors : 327 Reads. 215 Votes (Wed, 28 June 2017)

Rating (1-10) : 7

Tanggapan terhadap cerita ini : BUKAN SELERAKU  /  LUMAYAN /  BIASA SAJA  /  SUKA  / JATUH CINTA  / MENDADAK JADI FANS SETIA

REVIEWER MEMBACA SAMPAI CHAPTER : 14. ALASANNYA : Ingin tahu sampai part terakhir dipublikasi

Sudut Pandang yang Digunakan : Orang Pertama

Copyright : All Right Reserved

Read more : http://my.w.tt/UiNb/1xpSq3wNlE

Review by : http://wattpad.com/user/gustiamardalena

Kunjungi juga : http://wattpad.com/user/jkcommunity untuk membaca review-mu dalam format wattpad.

Diceritakan seorang perempuan bernama Zahra yang setiap hari selalu mendapat rangkaian bunga mawar di depan pintu rumahnya. Entah siapa yang mengiriminya bunga mawar. Setiap harinya, warna bunga mawar itu selalu berbeda, di rangkaian bunga mawar itu pun diselipkan juga secarik surat berisi pesan yang berbeda pula.

Zahra yang masih duduk di bangku SMA mempunyai seorang teman dekat bernama Julian. Di tengah kehangatan hubungan mereka, tiba-tiba Zahra dengan tidak sengaja mendengar obrolan Julian dengan sepupunya, sebuah rahasia yang membuat hubungan mereka akhirnya renggang bahkan putus hubungan.

 Zahra yang merasa terpukul, memilih menyendiri menenangkan pikirannya yang sedang kalut di suatu tempat. Di sisi lain, Angga teman sekolah yang juga tetangga dari anak teman lama Mama Zahra, diam-diam mencari Zahra. Ketika bertemu, Angga mengajaknya kembali ke sekolah, tapi Zahra menolak dengan keras. Kemudian Angga memberitahu teman Zahra, Cahaya, bahwa Zahra ditemukan dan menolak diajak kembali. Angga dipaksa oleh Cahaya untuk menemani Zahra yang sedang kacau itu, karena Cahaya khawatir akan terjadi apa-apa dengan Zahra. Meskipun awalnya ada penolakan dari Angga, tapi akhirnya Angga mengiyakan permintaan Cahaya. Dan sejak itu, hubungan antara Angga dengan Zahra menjadi dekat, dengan kata lain mereka menjadi akrab. Bahkan, Angga justru membela atau memberi pertolongan kepada Zahra di depan teman dekatnya, Julian, saat pertengkaran di sekolah yang membahas kelanjutan hubungan mereka.

Untuk si pengagum rahasia—si pengirim bunga mawar, belum juga tampak sampai part terakhir cerita ini dipublikasikan. Sedang, hubungan antara Zahra dengan Angga ada kemungkinan menjadi semakin dekat. Dan Julian dengan terpaksa kembali ke jalan sebelumnya, karena terjadi hal di luar rencana itu yang memicu pertengkaran dirinya dengan Zahra.

Bagaimana dengan perjalanan mereka bertiga? Juga siapakah sebenarnya si pengirim bunga mawar rahasia itu setiap harinya?

SEBELUM MEMBACA ISI REVIEW INI, JANGAN LUPA FOLLOW AKUN PENULIS REVIEW UNTUK MENDUKUNGNYA BERKARYA JUGA.

http://wattpad.com/user/gustiamardalena


SUDAH?


OKE… BISA KITA MULAI…

===

COVER : Simpel, sederhana​, manis. Tapi menurut saya di bagian warna dan jenis huruf di judulnya kurang jelas, jadi tulisannya kurang kelihatan, terutama di kalimat “Rangkaian Bunga”.

CHAPTER PEMBUKA : Cukup berkesan, bikin penasaran, ngebawa pembaca menuju jalan cerita dari ide utamanya untuk menemukan teka-tekinya.

EBI : Masih banyak yang harus diperbaiki. Salah satunya seperti kata “ku” yang mesti dirangkai dengan kata yang mendahuluinya atau dengan kata di belakangnya. Ada beberapa kata yang huruf awalnya diberi kapital enggak pada tempatnya. Tanda baca ejaan juga banyak yang kurang tepat penempatannya.

Terus, ada kata yang agak ngebingungin maksudnya, cerita ini kan pake POV 1, orang pertama yah, memang enggak masalah juga kalau di narasi banyak pake kata-kata enggak baku, tapi kalau kata-katanya terlalu jarang dipake sama kebanyakan orang, malah bikin bingung pembaca, atau memang sayanya aja mungkin yang kurang familiar, ya?

Dialog tag juga masih banyak yang salah cara penulisannya. Spasi banyak yang kelewat, terutama setelah tanda kutip juga banyak diabaikan. Cara penulisan dialog dalam telepon, kalau menurut saya sebaiknya nama si pembicara dijelasin lewat narasi atau di dialog tag-nya, sedang dialognya dibuat seperti percakapan langsung.

Banyak typo, bahkan ada typo yang  mengubah arti. Ada juga kalimat yang menggunakan bahasa Inggris tapi salah tulis. Tadinya saya pikir mungkin cuma salah ketik aja, tapi begitu kalimat itu keluar lagi di lain tempat, ternyata cara nulisnya juga masih sama kayak sebelumnya, itu typo yang bikin salah makna.

GAYA BAHASA : Ringan, mengalir, mudah dimengerti, remaja banget.

PENGGAMBARAN LATAR : Di tiap chapter saya lihat, khusus latar tempat, sering dibuat keterangan semacam judul sebelum masuk ke jalan cerita. Kalau menurut saya, lebih baik dijelasin melalui narasi aja, biar penggambarannya lebih menyeluruh, enak dibaca, dan lebih detail. Begitu saya lanjut ke chapter berikutnya, keterangan yang biasanya dibuat untuk latar tempat berubah jadi keterangan suasana dari jalan ceritanya. Saran saya, kenapa enggak dibuat judul aja di tiap chapternya? Biar apa yang disimpulin pada keterangan suasana, bisa disesuaiin dengan poin yang mau disampaikan di chapter itu.

Narasi kurang seimbang sama dialog. Saya ngerasanya narasinya kurang ngegambarin situasi. Jadi kayak percakapan antar mereka aja, pembaca kurang dikasih keterangan mengenai tokoh, latar, sama adegan-adegan yang lagi berjalan.

Cerita ini memang bagus buat pembaca yang enggak suka cerita panjang di dalam satu chapter, tapi kalau terlalu singkat, jadi kurang padat dan kurang berbobot aja.

KARAKTER TOKOH : Normal kayak anak-anak remaja kebanyakan. Apalagi si tokoh utama Zahra, yang kalau ngomong itu ceplas-ceplos. Karakter Zahra dan Julian sepanjang cerita konsisten. Cuma kalau menurut saya karakter Angga yang agak kurang masuk akal, mungkin karena kecepatan alurnya ya, jadi kesannya terburu-buru karakternya berubah tanpa adegan-adegan yang lebih signifikan. Secara keseluruhan, karakter para tokohnya masih kurang kuat.

ALUR, PLOT, KONFLIK : Sepanjang saya baca sampai chapter 14–chapter terakhir dipublikasi, saya masih belum nemu konflik yang mengarah ke teka-teki soal bunga mawarnya itu. Ada konflik yang muncul tapi belum jelas kelihatan arahnya mau ke mana. Alur yang disajiin terlalu cepat, enggak masalah juga sebetulnya kalau mau cepat, tapi tiap chapter yang dibuat itu terlalu singkat, narasi dan dialognya kurang dimanfaatin buat nyiptain alur dan konfliknya, minimal buat kasih clue yang mengarah ke teka-teki si pemberi bunga mawar itu. Jadi bagi saya, ketertarikan saya agak memudar begitu saya baca kelanjutan ceritanya.

LOGIKA CERITA (PLOT HOLE) : Ada satu part yang menurut saya enggak pas aja, kurang logis. Adegan di mana Zahra dan mamanya ke rumah Tante Chearle. Begitu sampai di sana, yang ngebukain pintu rumah Tante Chearle itu kan seorang cowok, yang tentunya juga belum dikenal Zahra. Sedang, saat Mama Zahra tanya kepada si cowok itu apakah ada Tante Chearle di rumah, ia menjawab Mama ada di dalam. Tentunya Zahra dengar juga, kan? Nah, yang janggal menurut saya, begitu keesokan harinya Zahra melihat ada cowok yang keluar​ pake seragam sekolah yang sama di rumah Tante Chearle dari depan rumahnya, Zahra bertanya-tanya​ sendiri siapa dia? Apa itu anaknya Tante Chearle?

Logikanya kan, mereka sudah saling ketemu dan dengar sendiri, kalau cowok itu anaknya Tante Chearle meskipun enggak secara langsung dikenalin. Jadi kurang pas aja kalau Zahra malah bertanya-tanya kayak gitu.

Terus, satu lagi. Cerita ini kan pake POV 1 yah, orang pertama, awalnya sih saya nyaman-nyaman aja bacanya, tapi begitu saya baca sampai di tengah cerita tepatnya di chapter 10, sudut pandangnya kok jadi berubah, ya? Si penulis kayak tahu apa yang dipikirkan si tokoh lain. Sedang si penulis menempatkan dirinya di aku, si tokoh utamanya sendiri. Sebetulnya saya enggak terlalu masalah kalau memang pake POV campuran sejak awal, misal si penulis nempatin dirinya jadi si aku (POV 1) di salah satu tokohnya, tapi di lain bab, si penulis nempatin dirinya di luar cerita (POV 3) saat si tokoh akunya enggak ada. Itu lebih baik daripada yang tiba-tiba berubah di tengah jalan cerita, apalagi di dalam satu bab. Jadi kesannya agak berantakan aja, kurang rapi.

KRITIK DAN SARAN : Cerita ini bagus sebetulnya. Cuma entah kenapa saya agak pusing bacanya. Heheh. Mungkin karena cara penulisannya yang masih banyak salah atau kurang tepat, jadi agak terganggu sama itu. Coba deh, lebih perhatian sama hal-hal kayak gitu. Soalnya hampir di tiap chapter, bahkan hampir di tiap paragraf selalu ada typo, entah itu yang terbalik susunan hurufnya, entah ketikannya kurang huruf–bisa hilang dua sampai tiga huruf, dan entah salah ketik yang ngubah arti. 

Terus, narasi dan dialognya kurang ngebangun alur dan plotnya, jadi apa yang disampaikan di tiap chapter kurang padat, kalau aja ceritanya dikasih bobot, itu akan membuat cerita lebih berisi dan lebih enak dibaca. 

Cerita ini pas buat pembaca yang suka skimming, saya enggak butuh waktu lama buat nyelesaiin bacaan ini, tapi kalau terlalu singkat jadi kurang aja ngerasanya, lebih diperhatikan lagi soal penggambaran luar dalam, buat ngebangun jalan cerita yang lagi berjalan.

Perbanyak baca buku EBI, KBBI, materi tentang kepenulisan dari mulai teknis sampai pada pengembangan kreativitas pembuatan cerita atau karangan. Banyak belajar dari itu. Kalau mau lebih enak lagi, coba baca-baca novel yang genrenya setara dan cari yang lebih kompleks buat bahan referensi belajar. Bisa dari novel yang sudah dicetak, di sana kan sudah lolos tangan editor tentunya, pastinya lebih rapi. Perhatiin gimana cara bikin novel. Atau coba baca materi soal kepenulisan di Wattpad, di sana juga banyak yang bikin work semacam itu, tinggal baca aja, gratis.

KESAN SETELAH MEMBACA : Awalnya saya agak tertarik sama chapter pertama yang disajiin di sana. Saya sempat penasaran akan seperti apa jalan ceritanya, teka-teki apa yang akan dikupas di sana. Itu yang bikin saya tertarik ingin tahu kelanjutannya kayak apa. Tapi begitu saya lanjut ke chapter berikutnya, saya ngerasa banyak yang kurang. Dari mulai perkenalan tokoh, di sana memang dijelasin kalau si Zahra masih sekolah, tapi enggak dikasih tahu sekolahnya tingkat apa, SD, SMP atau SMA? Saya akhirnya baru tahu begitu si Zahra ada bilang soal kelas IPS.

Visualisasi tokoh juga kurang, bahkan sepanjang cerita saya enggak dapat penggambaran tentang masing-masing para tokoh seperti apa rupanya.

Terus, banyak yang kurang dimanfaatin aja di tiap chapter. Sekian banyak chapter yang dibuat, tapi saya ngerasanya belum nemu satu pun clue yang ngarah ke bunga mawarnya itu, kecuali surat-surat yang diselipkan di rangkaian bunga mawarnya yang isi pesannya selalu berbeda setiap pengiriman.

Kesan yang saya tangkap juga kayak masih perkenalan aja sepanjang chapter. Konflik yang muncul pun belum bikin saya terpancing emosinya. Jadi, sepanjang saya baca cerita ini sampai publikasi terakhir, saya ngerasa kurang puas aja. Hehehe.

Cerita ini kalau menurut saya masih bisa dikembangin lagi, coba ambil riset kecil-kecilan buat ngebangun sisi letak teka-tekinya, clue yang memancing rasa ingin tahu lebih dalam ke pembaca. Pemantik buat munculin konflik yang menyeluruh dari ide pokok cerita itu, istilahnya benang merahnya lebih diperhatiin lagi.

===

Q & A


CHAPTER PALING MENGESANKAN? Chapter 11, di mana Angga membela atau memberi pertolongan ke Zahra dengan percaya diri dan penuh keyakinan, kayak pahlawan banget buat si Zahra. Hehe.

TOKOH TERFAVORIT? Angga, deh.

SATU KATA UNTUK KARYA INI? Lumayan

SATU KATA UNTUK PENULISNYA? SEMANGAAAATTTT….!!!!

YANG PALING MEMBEKAS DI HATI SETELAH MEMBACA? Soal pengagum rahasia yang belum terjawab masih jadi misteri. Tapi satu hal yang pasti, pesan  saya, ketika kita mengenal seseorang, pakailah insting.  Biar enggak salah ambil keputusan kayak si para tokoh yang ada di dalam cerita ini.

PESAN TERAKHIR REVIEW SINGKAT INI?Saya ada beberapa hasil screenshoot sebagai contoh buat ngebantu bagian mana-mana aja yang kurang tepat. Kalaupun saya salah, dikasih tahu aja, diingatin kalau memang masukan saya keliru. Hehe. Jangan sungkan,ya. Kalian juga bisa menambahkan dan membenahi jika review saya ada kesalahan.

Ini hanya saran dan masukan. Jangan terpengaruh juga sama masukan atau saran yang sekiranya enggak perlu. Terima dan ambil yang menurutnya tepat. Abaikan aja yang enggak pas, ya. Biar gimanapun, yang paling mengerti maksud, tujuan, dan isi cerita kan, ya… hanya penulisnya sendiri. Hehe.

Last, salam kenal, Kak Natasyah. Terima kasih banyak yang sudah mempercayakan karyanya di-review oleh Jendela Kata. Next time, jangan kapok di-review oleh kami, ya. 

Saya mohon maaf kalau ada kata-kata yang enggak berkenan, yang bikin sakit hati, juga kelalaian yang terjadi di mana-mana. Jujur, saya pun masih pemula dan masih harus banyak belajar. Apa yang saya sampaikan di sini pun untuk mengingatkan diri saya sendiri juga. Jadi, mohon dimaklumi, ya. Hehe.

So, buat penulisnya, cepat-cepat update lagi…. Hehe.

Sukses buat Kak Natasyah. Semangat…!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s